BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan
pembangunan kesehatan sangat menentukan pencapaian tujuan nasional. Pembangunan
kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, serta meningkatkan dan mengembangkan pelayanan kesehatan di
Rumah Sakit.Oleh karena itu agar pembangunan kesehatan dapat terarah
dan tertuju pada satu tujuan yang diinginkan yaitu dengan mewujudkan derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya, maka perlu acuan kebijakan sebagai
pedoman untuk pelaksanaannya.
Rumah
sakit sebagai salah satu pelayanan kesehatan yang memiliki peran yang sangat
srtategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat
Indonesia. Peran
strategis ini didapat karena rumah sakit adalah fasilitas kesehatan yang padat
teknologi dan padat pakar.( AditamaTjandra Yoga, 2003: 11)
Unit
rekam medis merupakan satu diantara penunjang medis yang dibutuhkan di setiap
rumah sakit yang bertanggung jawab dalam pengelolaan rekam medis pasien.
Pelayanan rekam medis yang baik di tandai dengan kecepatan pelayanan dan
tersedianya rekam medis saat dibutuhkan.
Berbagai
macam cara dan sistem yang digunakan untuk meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan, salah satunya adalah sistem rekam medis yang baik. Berkas rekam medis
dapat digunakan sebagai alat komunikasi antar pemberi pelayanan kesehatan. Mutu pelayanan dapat
ditingkatkan dengan baik, bila didukung
oleh keamanan dan kerahasiaan berkas rekam medis pasien di ruangan penyimpanan berkas
rekam medis itu sendiri.
Seperti
yang kita ketahui rekam medis pasien merupakan arsip yang bersifat rahasia. Berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan No.269/MENKES/PER/III/2008 tentang rekam medis, pasal 10 ayat
(1) bahwa isi berkas
rekam medis mengandung nilai kerahasiaan yang harus dijaga karena didalam rekam medis
mengandung riwayat pengobatan pasien dari awal sampai akhir pasien tersebut
berobat.Oleh karena itu rumah sakit bertanggung jawab atas keamanan dan
kerahasiaan rekam medis pasien.
Untuk
menjaga keamanan dan kerahasiaan rekam medis pasien maka diperlukan pengelolaan
rekam medis yang baik yaitu salah satunya seperti penggunaan ruang
penyimpanan rekam medis yang baik. Ruang rekam medis dapat dikatakan baik
apabila ruangan tersebut dapat menjamin sistem penyimpanan berkas rekam medis pasien
seperti terhindar dari ancaman kehilangan, bencana dansegala sesuatu yang dapat
membahayakan rekam medis tersebut.
Secara
historis Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi terletak di Jalan Hayam Wuruk
No 6 Yogyakarta dan berdiri pada tahun 1926.Rumah sakit Umum Bethesda
Lempuyangwangi awalnya hanyalah sebuah klinik bersalin yang dikenal sebagai
rumah Klinik Bersalin “Zuster Prins” yang memberikan pelayanan cukup memuaskan
di bidang kesehatan Ibu dan Anak.Namun dengan adanya pelayanan tersebut kondisi
bangunan yang sangat sederhana, peralatan dan tenaga kerja yang minim dan
kurang memadai.
Pada
tahun 1998 berubah nama dan fungsi pelayanannya sebagai Bidang Pelayanan
Kesehatan ( BIDYANKES ) Lempuyangwangi yang pada saat itu merupakan satelit
atau bagian daripada Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Agar tetap berkomitmen
menjaga kualitas dalam segi kualitas pelayanan kesehatan, pada tahun 2000
berubah nama dan fungsinya lagi menjadi Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (
RSKIA) Bethesda Lempuyangwangi, dengan status independen atau berdiri sendiri.
Berdasarkan
observasi awal di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta, penulis menemukan bahwa
ruang penyimpanan rekam medis letaknya terpisah dengan ruang unit rekam
medis, yaitu ± 250 m dari ruang unit rekam medis membuat pengontrolan
sulit dilakukan.
Salah
satu layanan yang sangat penting adalah sistem penyimpanan berkas rekam medis, layanan ini sangat di butuhkan oleh pasien. Selain itu pelayanan sistem
penyimpanan berkas rekam medis juga ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri sehingga kepuasan pasien pun dapat selalu
terpenuhi, dan dalam hal pencapaian layanan prima maupun peningkatan mutu
pelayanan.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis dapat mengambil judul “SISTEM
PENYIMPANAN BERKAS REKAM MEDIS DI RUMAH SAKIT UMUM BETHESDA LEMPUYANGWANGI
YOGYAKARTA”.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana
Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis Di Rumah Sakit Umum Bethesda
Lempuyangwangi Yogyakarta ?
C.
Tujuan Penilitian
Tujuan dari penilitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Tujuan
Umum
Adapun
tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan mempelajari sejauh mana aktifitas
penulis menguasai semua teori tentang Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis Di
Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta
2.
Tujuan
Khusus
Untuk
mengetahui lebih jelas tentang Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis Di Rumah
Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta
D. Manfaat
Penelitian
Manfaat dari penelitian ini antara lain adalah
sebagai berikut:
1.
Manfaat
bagi penulis
a.
Memenuhi
salah satu syarat kelulusan di AMA “Dharmala”.
b.
Meningkatkan
pengetahuan, kemampuan, dan ketempilan di bidang Manajemen Rumah Sakit.
c.
Dapat
menambah wawasan serta pengalaman dalam mengahadapi
dunia kerja.
2.
Manfaat
bagi Rumah Sakit
a.
Mendapat
masukan-masukan dari peserta PKL dalam rangka perbaikan kualitas pelayanan
sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari.
b.
Dapat
membantu kegiatan para karyawan Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta
3.
Manfaat
Bagi Lembaga (AMA DHARMALA)
a.
Melihat
sejauh mana mahasiswa dapat menerapkan teori yang didapat dari pembelajaran
b.
Terbinanya
jaringan kerja sama dengan instansi tempat PKL dalam upaya menigkatkan
keterkaitan dan kesepadanan antara subtansi,
akademik dengan pengetahuan dan ketrampilan SDM yang dibutuhkan dalam
pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia.
4.
Manfaat
bagi masyarakat
a. Memberikan informasi kepada masyarakat
Yogyakarta mengenai Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis Di Rumah Sakit Umum
Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.
E. Metode
Penilitian
1.
Jenis Data
a.
Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh
peneliti berasal dari sumber data yang pertamanya ( Sumadi
Surya Brata, 2003:93 ). Jadi data yang dikumpulkan diperoleh langsung dari
sumbernya yaitu pada unit penyimpanan berkas rekam medis. Dan juga ada data primer
lainnya yang diambil dalam laporan ini meliputi profil rumah sakit dan data
rekam medic.
b.
Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapat secara
tidak langsung atau melalui orang lain.
Biasanya data tersebut telah tersedia dalam bentuk dokumen seperti keadaan
demografi suatu daerah dan produktifitas suatu organisasi ( Sumadi Suryabrata,
2003: 39 ). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh
dari buku-buku tentang rumah sakit dan data mengenai rekam medis.
2.
Metode
pengumpulan Data
a.
Observasi
Metode
obervasi
adalah cara pengumpulan data dengan melaksanakan dan pendapatan secara cermat
dan sistematis terhadap gejala-gejala yang sedang diteliti. (Kuncoro Mudrajat,
2003:134). Penulis mendapatkan data dengan cara mengadakan pengamatan langsung
tentang objek yang diteliti.
b.
Wawancara
Metode
wawancara adalah
suatu cara yang dilakukan untuk mendapatkan keterangan secara lisan dari
seorang atau responden dengan bercakap dan berhadapan muka dengan responden (Soekidjo Notoadmodjo,2005:102). Dalam hal ini
penulis mendapatkan dengan cara bertanya langsung pada karyawan di Rumah Sakit.
Untuk memperoleh data yang dikumpulkan.
c.
Studi
Pustaka
Studi
Pustaka Adalah data yang dilakukan dengan mengumpulkan data dengan cara mempelajari,
membahas, menganalisis suatu masalah yang di teliti(Arifin, 2003:21).
d.
Metode
Analisa
Metode analisa adalah metode yang direncanakan dan
dasar teoritis untuk menganalisis data. Data yang digunakan dalam penulisan
laporan ini yaitu Deskriptif Kualitatif adalah data yang ditulis dengan menggunakan
klasifikasi-klasifikasi yang berbentuk kata atau kalimat, skema atau gambar.
Sedangkan kesimpulan dengan metode berfikir deduktif, yaitu penarikan kesimpulan untuk hal
spesifik dari gejala umum.
(Kuncoro Mudrajat, 2003:89).
F. Sistematika
Penulisan
BAB I
PENDAHULUAN
Bab
ini terdiri dari latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Jenis dan Metode
Pengumpulan Data dan Sistematika Penulisan.
BAB II
LANDASAN TEORI
Bab
ini menyajikan konsep-konsep teoritis yang berhubungan dengan masalah yang akan
dibahas dan sebagai dasar untuk mengadakan pembahasan penelitian. Pada bab ini
akan membahas tentang Pengertian Sistem, Pengertian Pelayanan, Pengertian Rekam
Medis, Tujuan dan Sasaran Rekam Medis, Pengertian Rumah Sakit,Tipe Rumah Sakit,
Kepemilikan Rumah Sakit dan Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis di RSU
Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta. Ada pula
teori-teori lain yang akan membahas tentang tentang Sistem Penyimpanan
Berkas Rekam Medis dan beberapa teori lain yang mendukung.
BAB
III GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT BETHESDA LEMPUYANGWANGI YOGYAKARTA
Dalam
bab ini penulis menjelaskan tentang Gambaran umum Rumah
Sakit yang juga terdiri dari Latar Belakang Rumah Sakit, Sejarah, Tujuan Umum atau Khusus,
Visi dan Misi, Falsafah, serta Motto RSU Bethesda Lempuyangwangi. Dalam Bab ini penulis juga mencantumkan
beberapa data RSU Bethesda
Lempuyangwangi Yogyakarta.
BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN
Bab
ini membahas tentang Analisis data dan Hasil Pembahasan yang berhubungan dengan Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis di
RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.
BAB V PENUTUP
Bab
ini menjelaskan tentang
kesimpulan yang diambil dalam melakukan penelitian di Rumah Sakit dan Saran
sebagai masukan dari perkembangan serta kemajuan Rumah Sakit.
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB
II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Sistem
Sistem
merupakan suatu susunan, rakitan komponen atau bagian-bagian yang membentuk
suatu kesatuan yang utuh dengan sifat saling tergantung, saling mempengaruhi,
dan saling berhubungan (Moh. Anief,2005: 19). Apabila salah satu bagian mengalami
kerusakan akan mengakibatkan terganggunya seluruh sistem.
Sistem dapat mempunyai arti
yang berbeda-beda tetapi masih dalam tujuan yang sama. Beberapa arti dari
sistem antara lain :
a.
Sistem adalah kumpulan bagian-bagian yang berhubungan dan
membentuk kesatuan yang kompleks dan masing-masing bagian bekerja sama, bebas
dan terkait dalam mencapai kesatuan sasaran dalam situasi yang kompleks (Moh. Anief,2005: 19).
b.
Sistem
adalah sekumpulan unsur yang berhubungan antara satu dengan yang lainnya
sedemikian rupa berproses mencapai tujuan tertentu, atau suatu tatanan dimana
terjadi suatu kesatuan dari berbagai unsur yang saling berkaitan secara teratur
menuju pencapaian unsur dalam batas lingkungan tertentu (Ery
Rustiyanto,2010:3).
Dari
kedua definisi di atas mengandung pengertian yang sama atau saling melengkapi,
sehingga pengertian sistem akan menjadi suatu kesatuan dari subsistem-subsistem
dan prosedur-prosedur yang terintegrasi, disusun secara skematis dan baku untuk
melaksanakan atau untuk mencapai tujuan tertentu suatu perusahaan atau
organisasi. Pemeliharaan atas sistem tidak hanya menjadi fungsinya saja tetapi
juga senantiasa mengembangkan kedayagunaannya sesuai dengan perkembangan dan
kemajuan organisasi dan mengikuti perkembangan teknologi.
B. Pengertian Pelayanan
Pelayanan merupakan tatanan yang bertujuan tercapainya derajat
kesehatan yang bermutu tinggi dan merata, melalui upaya – upaya dalam tatanan
tersebut yang dilaksanakan secara efisien dan berkualitas serta terjangkau.
Pelayanan kesehatan terdiri atas dua bagian,
yaitu pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat.
Dalam pelayanan kesehatan perorangan terdapat berbagai upaya untuk peningkatan
kesehatan, yaitu mulai dari promosi
kesehatan , pencegahan penyakit dan kecacatan, deteksi dini penyakit /
kecacatan dan penanganan yang tepat agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut
atau kecacatan limitasi kecacatan akibat penyakit dan, rehabilitasi sedangkan
pelayanan kesehatan masyarakat juga dikenal upaya health promotion specific protection (Gemala R. Hatta, 2008:6).
C. Pengertian Rekam Medis.
Menurut
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/2008
tentang rekam medis, rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan
dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan
pelayanan lain yang telah diberikan
kepada pasien. Rekam medis merupakan berkas/dokumen penting bagi setiap
instansi rumah sakit. Menurut Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2008:1), rekam medis adalah berkas yang
berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada
pasien. Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang rekam medis dijelaskan bahwa rekam medis
adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien,
pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana
pelayanan kesehatan. Sedangkan menurut
Huffman dalam Fajri (2008:5) rekam medis adalah fakta yang berkaitan dengan
keadaan pasien, riwayat penyakit dan pengobatan masa lalu serta saat ini yang
ditulis oleh profesi kesehatan yang memberikan pelayanan kepada pasien
tersebut. Dengan melihat ketiga
pengertian di atas dapat dikatakan bahwa suatu berkas rekam medis mempunyai arti
yang lebih luas daripada hanya sekedar catatan biasa, karena didalam catatan
tersebut sudah memuat segala informasi menyangkut seorang pasien yang akan
dijadikan dasar untuk menentukan tindakan lebih lanjut kepada pasien.
D. Tujuan dan Kegunaan Rekam Medis
Tujuan rekam
medis menurut (Hatta 2008) dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu tujuan
primer dan tujuan sekunder.
1. Tujuan Primer
Tujuan primer rekam medis ditujukan
kepada hal yang paling berhubungan langsung dengan pelayanan pasien. Tujuan
primer terbagi dalam lima kepentingan, yaitu :
a)
Untuk kepentingan pasien, rekam
medis merupakan alat bukti utama yang mampu membenarkan adanya pasien dengan
identitas yang jelas dan telah mendapatkan berbagai pemeriksaan dan pengobatan
di sarana pelayanan kesehatan dengan segala hasil serta konsekuensi biayanya.
b)
Untuk kepentingan pelayanan pasien,
rekam medis mendokumentasikan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan,
penunjang medis dan tenaga lain yang bekerja dalam berbagai fasilitas pelayanan
kesehatan.
c)
Untuk kepentingan manajemen
pelayanan, rekam medis yang lengkap memuat segala aktivitas yang terjadi dalam
manajemen pelayanan sehingga digunakan dalam menganalisis berbagai penyakit,
menyusun pedoman praktik, serta untuk mengevaluasi mutu pelayanan yang
diberikan.
d)
Untuk kepentingan menunjang pelayanan, rekam
medis yang rinci akan mampu menjelaskan aktivitas yang berkaitan dengan penanganan
sumber-sumber yang ada pada organisasi pelayanan di rumah sakit, menganalisis
kecenderungan yang terjadi dan mengkomunikasikan informasi di antara klinik
yang berbeda.
e) Untuk
kepentingan pembiayaan, rekam medis yang akurat mencatat segala pemberian
pelayanan kesehatan yang diterima pasien. Informasi ini menentukan besarnya
pembayaran yang harus dibayar.
2. Tujuan
Sekunder
Tujuan
sekunder rekam medis ditujukan kepada hal yang berkaitan dengan lingkungan
seputar pelayanan pasien namun tidak berhubungan langsung secara spesifik,
yaitu untuk kepentingan edukasi, riset, peraturan dan pembuatan kebijakan.
Rekam medis
aktif adalah berkas rekam medis yang tanggal pulang atau tanggal kunjungan terakhir
masih dalam jangka waktu tiga sampai lima tahun dari tanggal sekarang (Skurka,
2003). Rekam medis inaktif adalah naskah/berkas yang telah disimpan minimal
selama lima tahun di unit kerja rekam medis dihitung sejak tanggal terakhir
pasien tersebut dilayani pada sarana pelayanan kesehatan atau lima tahun
setelah meninggal dunia (Dirjen Pelayanan Medik 1995 No.HK.00.06.1.5.01160).
3.
Kegunaan Rekam Medis
Kegunaan rekam medis dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain,
(Dirjen Yankes 2003: 10)
a. Aspek Administrasi Suatu berkas
rekam medis mempunyai nilai administrasi, karena Isinya menyangkut tindakan berdasarkan wewenang dan
tanggung jawab sebagai tenaga medis dan para medis dalam mencapai tujuan
pelayanan kesehatan.
b. Aspek Medis Sebagai dasar untuk
merencanakan pengobatan atau perawatan yang harus diberikan kepada seorang
pasien.
c. Aspek Hukum Suatu berkas rekam
medis mempunyai nilai hukum, karena isinya menyangkut masalah adanya jaminan
kepastian hukum atas dasar keadilan, dalam rangka usaha untuk menegakkan hukum
serta penyediaan bahan bukti untuk menegakkan keadilan.
d. Aspek Keuangan Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai uang, karena
isinya mengandung data / informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek
keuangan.
e. Aspek Penelitian Suatu berkas
rekam medis mempunyai nilai penelitian, karena isinya menyangkut data /
informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek penelitian dan pengembangan
ilmu pengetahuan dibidang kesehatan.
f. Aspek Pendidikan Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai pendidikan,
karena isinya menyangkut data / informasi tentang perkembangan kronologis dan
kegiatan pelayanan medik yang diberikan kepada pasien. Informasi tersebut dapat
dipergunakan sebagai bahan atau referensi pengajaran dibidang profesi si pemakai.
g. Aspek Dokumentasi Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai dokumentasi,
karena isinya menyangkut sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai
sebagai bahan pertanggung jawaban dan laporan rumah sakit.
Dengan melihat beberapa aspek tersebut diatas, rekam medis mempunyai
kegunaan yang sangat luas, karena tidak hanya menyangkut antara pasien dengan
(Dirjen Yankes, 2003: 12) :
1) Sebagai alat komunikasi antara dokter dengan tenaga ahli lainnya yang
ikut ambil bagian didalam memberikan pelayanan, pengobatan, perawatan kepada
pasien.
2) Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan / perawatan yang harus
diberikan kepada seorang pasien.
3) Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan, perkembangan
penyakit dan pengobatan selama pasien berkunjung / dirawat di rumah sakit.
4) Sebagai bahan yang berguna untuk analisa, penelitian dan evaluasi
terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien.
5) Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun dokter dan
tenaga kesehatan dan lainnya.
6) Menyediakan data-data khusus yang
sangat berguna untuk keperluan penelitian dan pendidikan.
7) Sebagai dasar ingatan penghitungan biaya pembayaran pelayanan medik
pasien.
8) Menjadi sumber ingatan yang harus
didokumentasikan
E.
Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis.
Sebelum menentukan sistem yang akan
dipakai perlu terlebih dahulu mengetahui bentuk pengurusan penyimpanan yang ada
dalam pengolahan rekam medis.
1. Ada
dua cara pengurusan penyimpanan dalam penyelenggaraan rekam medis, yaitu :
a. Sentralisasi
Sentralisasi ini
diartikan penyimpanan rekam medis
seseorang pasien dalam kesatuan baik catatan-catatan kunjungan poliklinik
maupun catatan-catatan selama seorang pasien dirawat. Sistem ini disamping
banyak kelebihan dan kekurangannya.
Kelebihan adalah
sebagai beriku :
1) Mengurangi
terjadinya duplikasi dalam pemeliharaan dan penyimpanan rekam medis
2) Mengurangi
jumlah biaya yang dipergunakan untuk peralatan dan ruangan
3) Tatakerja
dan peraturan mengenai kegiatan pencatatan medis mudah di standardisasikan.
4) Memungkinkan
peningkatan efisien kerja petugas penyimpanan.
5) Mudah
merapkan sistem unit record.
Kekurangannya
adalah sebagai berikut :
1) Petugas
menjadi lebih sibuk, karena harus menangani unit rawat jalan dan unit rawat
nginap.
2) Tempat
penerimaan pasien harus bertugas selama 4 jam.
b. Desentralisasi
Dengan cara
disentralisasi terjadi pemisahan antara rekam medis poliklinik dengan rekam
medis penderita dirawat. Rekam medis poliklinik disimpan di satu tempat
penyimpanan. Sedangkan rekam medis penderita dirawat disimpan dibagian
pencatatan medis.
Kebaikannya
adalah sebagai berukut:
1) Efisiensi
waktu, sehingga pasien mendapatkan pelayanan yang cepat.
2) Beban
kerja yang dilaksanakan petugas lebih ringan.
Kekurangannya
adalah sebagai berikut :
1) Terjadi
duplikasi dalam pembuatan rekam medis
2) Biaya
yang diperlukan untuk peralatan dan ruangan lebih banyak.
Secara
teori cara sentralisasi lebih baik dari
pada cara desentralisasi . tetapi pada pelaksanaannya sangat tergantung pada
situasi dan kondisi masing-masing rumah sakit. Hal-hal yang mempengaruhi yang
berkaitan dengan situasi dan kondisi tersebut antara lain:
1) Karena
terbatasnya tenaga yang trampil. Khususnya yang menangani pengelolaan rekam
medis.
2) Kemampuan
dana rumah sakit terutama rumah sakit yang dikelola oleh Pemerintah Daerah.
Proses pelayanan yang diawali
dengan indentifikasi pasien baik jati diri, maupun pelayanan penyakit,
pemeriksaan, pengobatan dan tindakan medis lainnya yang merupakan catatan
mengenai apa, kapan, dimana, siapa, kenapa dan bagaimana suatu pasien
mendapatkan perawatan di suatu tempat instalasi mulai dari masuk sampai keluar.
Setelah kegiatan pencatatan data medis pasien itu mendapatkan pelayanan medis
di rumah sakit.
F. Pengertian
Rumah Sakit
Rumah sakit adalah Bagian integral dari keseluruhan sistem
pelayanan kesehatan. DepartemenKesehatan RI telah menggariskan bahwa rumah
sakit mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dengan
mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi
dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya
rujukan (Aditama Tjandra Yoga, 2003:8).
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
983/Menkes/SK/XI/1992, menyebutkan bahwa, rumah sakit umum adalah rumah sakit
yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik dan sub
spesialistik. Rumah sakit mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan yang
bermutu yang terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat.
Milton Roemer dan Friedman dalam buku “Docters In Hospital” (1971) menyatakan bahwa rumah sakit mempunyai
lima fungsi :
a.
Harus ada
pelayanan rawat inap dengan fasilitas diagnostik dan terpeutiknya. Berbagai
jenis spesialisasi baik bedah maupun non bedah harus tersedia
b.
Rumah sakit
harus memiliki pelayanan rawat jalan .
c.
Rumah sakit
juga punya tugas untuk melakukan pendidikan dan latihan.
d.
Rumah sakit
perlu melakukan penelitian di bidang kedokteran dan kesehatan, karena
keberadaan pasien di rumah sakit merupakan modal dasar untuk penelitian.
e.
Rumah sakit
juga punya tanggung jawab untuk program pencegahan penyakit dan penyembuhan kesehatan
bagi populasi disekitarnya (Aditama Tjandra Yoga, 2003:6).
Ditinjau dari kemampuan
yang dimiliki rumah sakit, di Indonesia dibedakan atas lima macam. Adapun
kelima macam tipe rumah sakit tersebut adalah sebagai berikut (Alamsyah Dedi,
2011:104):
a.
Rumah sakit
kelas A
Rumah sakit kelas A adalah rumah sakit
yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis luas.
Yang dimaksud rumah sakit kelas A adalah rumah sakit sebagai tempat rujukan
tertinggi.
b.
Rumah sakit
kelas B
Rumah sakit kelas B adalah rumah sakit
yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis teratas.Contoh
rumah sakit kelas B adalah rumah sakit di Ibukota Provinsi yang menampung
rujukan dari tingkat Kabupaten.
c.
Rumah sakit
kelas C
Rumah sakit kelas C adalah rumah sakit
yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis terbatas.Dalam hal ini ada
empat macam spesialis yang disediakan, yaitu spesialis penyakit bedah,
spesialis penyakit dalam, spesialis penyakit anak serta spesialis penyakit
kandungan dan kebidanan.Rumah sakit kelas C ini adalah menampung rujukan dari
puskesmas.
d.
Rumah sakit
kelas D
Rumah sakit kelas D adalah rumah sakit
yang memiliki sifat transisi dikarenakan pada suatu saat akan menjadi rumah
sakit kelas C. Rumah sakit kelas D disini dimaksudkan adalah rumah sakit yang
memiliki hanya dua bidang kedokteran yaitu kedokteran umum dan kedokteran gigi.
e.
Rumah sakit
kelas E
Rumah sakit kelas E adalah rumah sakit
yang memiliki hanya satu pelayanan saja, yaitu pelayanan kedokteran. Contohnya rumah
sakit jiwa, rumah sakit ibu dan anak.
G. Jenis
Kepemilikan Rumah Sakit
1.
Jenis Rumah Sakit
Sesuai dengan perkembangan yang
dialami, pada saat ini rumah sakit dapat dibedakan menjadi atas beberapa jenis,
yaitu :
a.
Menurut pemilik
Ditinjau
dari pemiliknya, rumah sakit dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu rumah
sakit milik pemerintah dan rumah sakit milik swasta.
b.
Menurut filosofi yang dianut
Jika
ditinjau dari filosofi yang dianut, rumah sakit dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu rumah sakit yang mencari keuntungan atau profit dan rumah sakit
yang tidak mencari keuntungan atau non profit.
c.
Menurut jenis pelayanan yang
diselenggarakan
Jika
ditinjau dari jenis pelayanan yang diselenggarakan, rumah sakit dapat dibedakan
atas dua macam, yaitu rumah sakit umum jika semua jenis pelayanan kesehatan
diselenggarakan dan rumah sakit khusus jika hanya satu jenis pelayanan
kesehatan diselenggarakan.
d.
Menurut lokasi rumah sakit
Jika
ditinjau dari lokasinya, rumah sakit dapat dibedakan atas beberapa macam yang
kesemuanya tergantung dari pembagian system pemerintah yang dianut. Misalnya,
rumah sakit pusat apabila letaknya di ibu kota negara, rumah sakit provinsi
jika letaknya di ibu kota provinsi dan rumah sakit umum kabupaten jika letaknya di ibu kota kabupaten.
BAB III
GAMBARAN
UMUM RUMAH SAKIT BETHESDA LEMPUYANGWANGI
A.
Sejarah
Rumah Sakit Umum Bethesda
Lempuyangwangi
Rumah Sakit Umum Bethesda
Lempuyangwangi merupakan rumah sakit milik Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum
(YAKKUM) sebagai konsep Healing Ministry.
Pada tahun 1926, dimasa kepemimpinan dokter Ofringe selaku Pimpinan RS
Petronella membuka klinik bersalin serta klinik anak di daerah bagian selatan
Kota Yogyakarta yaitu daerah Lempuyangan. Klinik tersebut berperan untuk
meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Pada awal mula berdirinya klinik ini
dipimpin oleh Zuzter Enzerink selaku
pimpinan harian, setelah itu kemudian digantikan oleh Zuzter Prins. Sejak saat itu klinik tersebut dikenal sebagai Klinik
Zuzter Prins.
Pada tanggal 12 September 1998
telah diputuskan oleh Yayasan (Dewan Pengurus YAKKUM) bahwa Pelayanan Kesehatan
Lempuyangwangi dimandirikan menjadi RSKIA Bethesda Lempuyangwangi dengan
diterbitkan SK pengangkatan Direktur. Ijin pendirian RSKIA Bethesda
Lempuyangwangi telah dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DIY
tanggal 6 Agustus 1999 melalui SK Nomor 503/1490/PK/VIII/99. Dan pada tanggal
29 Oktober 2001 telah diterbitkan SK
Pemberian Ijin Tetap dari Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DIY dengan Surat
Keputusan No. 2957.
RSKIA Bethesda Lempuyangwangi
berubah status menjadi RSU Bethesda Lempuyangwangi pada tanggal 15 Maret 2003
melalui SK Pemberian Ijin Konversi menjadi RSU Bethesda Lempuyangwangi dari Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DIY No.
503/ 599. Pada tanggal 19 Januari 2012 diterbitkan Surat Ijin Menyelenggarakan
RSU Bethesda Lempuyangwangi dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dengan
SK No. 503/ 1022. RSU Bethesda Lempuyangwangi beroperasional sesuai dengan Visi
dan Misi yang telah ditetapkan.
RSU Bethesda
Lempuyangwangi pada tahun 1926 dipimpin oleh Zuzter Prins sampai tahun 1942.
Kemudian secara bergantian oleh Zuzter Sukismiati (1943 – 1950), Zuzter Supadmi
(1950 – 1956), Zuzter Katinah (1956 – 1960), Zuzter Supiswati (1960 – 1971).
Mulai tahun 1968 rumah sakit ini memiliki kepala unit yang dipercayakan kepada
dr. Lucas Budi Gunawan, Sp. OG sampai 1981. Dr. Noegroho Hadi Poerwowidagdo,
Sp. OG memimpin setelah dr. Lucas Budi Gunawan, Sp. OG kemudian dilanjut Dr.
Marwoto, Sp. A ditunjuk menjadi kepala unit berikutnya pada tahun 1981 – 1992.
Kemudian dari tahun 1993 – 2012 secara bergantian dipimpin oleh dr. Bambang
Hadi Baroto, Sp. A, dr. Wisnu Setyabudi, dr. Theresia Indrayanti dan dr.
Sugianto, M.Kes. Sp.S, Ph.D. Saat ini RSU Bethesda Lempuyangwangi dipimpin oleh
dr. Adelyna Meliala, Sp. S dengan SK Pengurus YAKKUM No. 1941-Ps/PUK.
RSBL/I/2013 tentang Pengangkatan Direktur RSU Bethesda Lempuyangwangi.
Nama Rumah Sakit
adalah Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yakkum Yogyakarta yang dapat
disingkat dengan RSU Bethesda Lempuyangwangi, milik Badan Hukum Yayasan Kristen
Untuk Kesehatan Umum (Yakkum), yang didirikan berdasarkan Akta pendirian
yayasan no 6, oleh notaris Tan A Sioe, Sarjana Hukum, Notaris di Semarang pada
tanggal 1 Februari tahun 1950.
Surat Ijin
Penyelenggaraan Rumah Sakit dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta No : 503/
1022, berlaku dari 19 Januari 2012 sampai dengan 16 Januari 2017.
Jenis dan Kelas
Rumah Sakit adalah Rumah Sakit Umum Kelas D sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan No. HK.02.03./ I/ 1999/ 2014 tanggal 12 Agustus 2014 tentang
Penetapan Kelas Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yakkum
Yogyakarta.Alamat rumah sakit adalah di Jalan Hayam Wuruk No. 6 RT 43 RW 11
Kelurahan Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa
Yogyakarta.Luas area rumah sakit lebih kurang 4.167 m2 dan luas
bangunan rumah sakit lebih kurang 3.758 m2. Dan dengan jenis
pelayanan Rawat Jalan meliputi Klinik Umum, Klinik Gigi dan Mulut, serta Klinik
Spesialis, Pelayanan Gawat Darurat dan Ambulance, Pelayanan Rekam Medis, Pelayanan
Kamar Bedah & VK, Pelayanan Penunjang: Farmasi, Radiologi, Laboratorium,
Rehabilitasi Medik, dan Gizi, Pelayanan Rawat Inap: memiliki 43 TT, yang
terdiri dari: Klas VIP, Klas I, Klas II, Klas III, Ruang HCU dan Ruang Bayi.
RSU Bethesda
Lempuyangwangi telah lulus Akreditasi 5 Standar Pelayanan pada 12 Oktober 2011,
dengan sertifkat kelulusan dari KARS No. KARS-SERT/ 87/ X/ 2011, dengan status
Akreditasi Lulus Tingkat Dasar, berlaku dari 12 Oktober 2011 sampai dengan 12
Oktober 2014.
B.
Visi,
Misi, Falsafah, Tujuan, Motto, Dan Semboyan Kerja
1.
Visi
“Menjadi Rumah Sakit terpercaya,
profesional, beralaskan kasih dan menjadi pilihan masyarakat”.
2.
Misi
a. Menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang holistik, bermutu, terjangkau dan berwawasan
lingkungan.
b. Menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang fokus pada kepuasan pelanggan.
c. Membangun
SDM yang kompeten, berkomitmen, dan berkarakter sesuai budaya kerja YAKKUM.
d. Mengelola
penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara efektif dan efisien.
3.
Falsafah
“Manusia sebagai citra Allah dari saat pembuahan,
lahir, sampai kematian berhak dan wajib memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatannya secara terpadu dan berkesinambungan”.
4.
TUJUAN
1. Terselenggaranya
pelayanan rumah sakit secara cepat, tepat, profesional, aman dan nyaman.
2. Terciptanya
suasana kerja yang harmonis, komunikatif dan ramah.
5.
Motto
“Melayani
Dengan Kasih Menuju Sehat”
Melayani dengan kasih menuju sehat memiliki
pengertian bahwa didalam memberikan pelayanan yang terbaik tersebut merujuk
kepada Kolose 3:23, yaitu melakukan setiap pelayanan dengan segenap hati
seperti untuk TUHAN dan bukan untuk manusia, sehingga setiap petugas RSU
Bethesda Lempuyangwangi tidak membedakan manusia berdasarkan : status sosial
ekonomi, latar belakang pendidikan, umur, jenis kelamin, kelompok/ golongan
dalam memberikan pelayanan.
6.
Semboyan
Kerja
“4S” (Senyum, Sapa, Sopan, dan Semangat)
Budaya Kerja RSU Bethesda Lempuyangwangi adalah 4 S
yaitu Senyum, Sapa, Sopan dan Semangat. 4S ini diartikan sebagai pelayanan
prima dalam menangani pasien yang dirawat di RSU Bethesda Lempuyangwangi.
Seluruh petugas yang berada di RSU Bethesda Lempuyangwangi menjalankan
pelayanan kepada pasien wajib 4S ini.
C.
Struktur
Organisasi Rumah Sakit UmumBethesda Lempuyangwangi Yakkum Yogyakarta
Struktur Organisasi RSU Bethesda
Lempuyangwangi, sesuai SK Direktur No. 0923/ RSBL/ OP.010/ 2014 tentang
Penetapan Struktur Organisasi Yakkum Unit Kerja RSU Bethesda Lempuyangwangi
Yogyakarta Tahun 2014
adalah sebagai berikut.
|
KETUA
SPI
|
|
|
|
|
|
PANITIA
|
|
KABID
PELAYANAN
MEDIK
|
|
KABID
PENUNJANG
MEDIK
|
|
KABAG
KEUANGAN
|
|
KABAG
SDM
& UMUM
|
|
KETUA
KOMITE
MEDIK
|
|
KETUA
SOSIO PASTORAL & SPIRITUAL
|
|
KEPALA
INSTALASI
IGD,
KB & VK
|
|
KEPALA
SEKSI KEPERAWATAN
|
|
KEPALA
SEKSI
REKAM
MEDIK
|
|
KEPALA
INSTALASI
RANAP
& RAJAL
|
|
KOORD.
RUANG IGD, KB & VK
|
|
PJ.
KAMAR BEDAH
|
|
PJ.
KAMAR BEDAH
|
|
KOORD.
RUANG RANAP
|
|
KOORD.
RUANG RAJAL
|
|
KEPALA
SUB SEKSI
ASUHAN
KEPERAWATAN
|
|
KEPALA
SUB SEKSI
ETIKA
& MUTU KEPERAWATAN
|
|
KA.
INST. FARMASI
|
|
KA.
INSTALASI GIZI
|
|
KA.
INST. RADIOLOGI
|
|
KALAKHAR
RADIOLOGI
|
|
KA.
INST. LABORATORIUM
|
|
KALAKHAR
LABORATORIUM
|
|
KA.
INST. REHAB MEDIK
|
|
KASUBBAG
SDM
& DIKLAT
|
|
KASUBBAG
UMUM
& TATA USAHA
|
|
KASUBBAG
KEUANGAN
|
|
KASUBBAG
AKUNTANSI
|
|
EDP
|
|
PENGURUS
YAKKUM
|
|
DIREKTUR
|
|
KA. UR
TATA USAHA
|
|
KA. UR
HUMAS & MARKETING
|
|
KSP KOMINFO
|
|
KA. UR
PSP & SANITASI
|
|
KSP LOGISTIK
|
|
KSP KEAMANAN
|
|
KSP LAUNDRY
|
A. Unit
Struktural
1. Direktur
Direktur Adalah
pimpinan atau pejabat tertinggi di RSU Bethesda Lempuyangwangi.
2. Kepala
Bidang & Kepala Bagian
Kepala Bidang &
Kepala Bagian adalah pejabat yang membantu Direktur dalam melaksanakan tugas
dan tanggungjawabnya sesuai bidang dan bagian masing-masing, yaitu:
a. Kepala
Bidang Pelayanan Medik : membantu Direktur dalam bidang Pelayanan Medis,
Keperawatan, dan Rekam Medik.
b. Kepala
Bidang Penunjang Medik : membantu Direktur dalam bidang Penunjang Medik.
c. Kepala
Bagian SDM & Umum : membantu Direktur dalam bagian SDM & Umum.
d. Kepala
Bagian Keuangan : membantu Direktur dalam bagian Keuangan.
3. Kepala
Instalasi
Kepala InstalasiAdalah
pejabat yang membantu Kepala Bidang dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab
sesuai bidang masing-masing. Kepala Instalasi yang berada dibawah koordinasi
Bidang Pelayanan Medik antara lain:
a. Kepala
Instalasi IGD, Kamar Bedah & VK : membantu Kepala Bidang Pelayanan Medik
dalam menjalankan pelayanan di IGD, Kamar Bedah & VK.
b. Kepala
Instalasi Rawat Inap & Rawat Jalan : membantu Kepala Bidang Pelayanan Medik
dalam menjalankan pelayanan di Rawat Inap & Rawat Jalan.
Kepala Instalasi yang berada
dibawah koordinasi Bidang Penunjang Medik antara lain:
a. Kepala
Instalasi Farmasi : membantu Kepala Bidang Penunjang Medik dalam menjalankan
pelayanan Farmasi.
b. Kepala
Instalasi Gizi : membantu Kepala Bidang Penunjang Medik dalam menjalankan
pelayanan Gizi.
c. Kepala
Instalasi Radiologi : membantu Kepala Bidang Penunjang Medik dalam menjalankan
pelayanan Radiologi.
d. Kepala
Instalasi Laboratorium : membantu Kepala Bidang Penunjang Medik dalam
menjalankan pelayanan Laboratorium.
e. Kepala
Instalasi Rehab Medik : membantu Kepala Bidang Penunjang Medik dalam
menjalankan pelayanan Rehabilitasi Medik.
4. Kepala
Seksi Keperawatan
Kepala Seksi
Keperawatan adalah pejabat yang membantu Kepala Bidang Pelayanan Medik dalam
menjalankan tugas dan tanggungjawab di bidang pelayanan Keperawatan.
5. Kepala
Seksi Rekam Medik
Kepala Seksi Rekam
Medik adalah pejabat yang membantu Kepala Bidang Pelayanan Medik dalam
menjalankan tugas dan tanggungjawab di bidang pelayanan Rekam Medis.
6. Kepala
Sub Bagian
Kepala Sub Bagian adalah
pejabat yang membantu Kepala Bagian dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab
sesuai bagian masing-masing. Kepala Sub Bagian yang berada dibawah koordinasi
Bagian SDM & Umum antara lain:
a. Kepala
Sub Bagian SDM & Diklat : membantu Kepala Bagian SDM & Umum dalam
mengelola SDM dan Pendidikan Pelatihan SDM.
b. Kepala
Sub Bagian Umum & Tata Usaha : membantu Kepala Bagian SDM & Umum dalam
mengelola Bagian Umum & Tata Usaha.
Kepala Sub Bagian yang berada
dibawah koordinasi Bagian Keuangan antara lain:
a. Kepala
Sub Bagian Keuangan : membantu Kepala Bagian Keuangan dalam mengelola Keuangan.
b. Kepala
Sub Bagian Akuntansi : membantu Kepala Bagian Keuangan dalam mengelola
Akuntansi.
7. Kepala
Sub Seksi
Kepala adalah pejabat
yang membantu Kepala Seksi Keperawatan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab
di bidang pelayanan Keperawatan. Kepala Sub Seksi yang ada antara lain:
a. Kepala
Sub Seksi Asuhan Keperawatan
b. Kepala
Sub Seksi Etika & Mutu Keperawatan
8. Koordinator
Ruang
Koordinator Ruang adalah
pejabat yang membantu Kepala Keperawatan dan Kepala Instalasi di bidang
Pelayanan Medik dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di bidang pelayanan
medis masing-masing. Koordinator Ruang yang ada antara lain:
a. Koordinator
Ruang IGD, Kamar Bedah & VK
b. Koordinator
Ruang Rawat Inap
c. Koordinator
Ruang Rawat Jalan
9. Kepala
Pelaksana Harian (Kalakhar)
Kepala Pelaksana Harian
adalah pejabat yang membantu Kepala Instalasi di bidang Penunjang Medik dalam
menjalankan tugas dan tanggungjawab di bidang penunjang medik masing-masing.
Kepala Pelaksana Harian yang ada antara lain:
a. Kalakhar
Radiologi
b. Kalakhar
Laboratorium
10. Kepala
Urusan (Ka. Ur.)
Kepala Urusan adalah
pejabat yang membantu Kepala Sub Bagian Umum & Tata Usaha dalam menjalankan
tugas dan tanggungjawab di bagian Umum & Tata Usaha. Kepala Urusan yang ada
antara lain:
a. Ka.
Ur. Tata Usaha
b. Ka.
Ur. Humas & Marketing
c. Ka.
Ur. PSP & Sanitasi
11. EDP
(Electronic Data Processing)
EDP (Electronic Data Processing) adalah
bagian yang membantu Kepala Sub Bagian Keuangan dalam menjalankan tugas dan
tanggungjawab di bagian Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit.
12. Penanggungjawab
(Pj.)
Penanggungjawab (Pj) adalah
pejabat yang membantu Koordinator Ruang IGD, Kamar Bedah & VK dalam
menjalankan tugas dan tanggungjawab di pelayanan bidang Kamar Bedah & VK.
Penanggungjawab yang ada antara lain:
a. Pj.
Kamar Bedah
b. Pj.
VK
13. Kepala
Satuan Pelaksana (KSP)
Kepala Satuan Pelaksana
(KSP) adalah pejabat yang membantu Kepala Urusan di Bagian Umum dalam
menjalankan tugas dan tanggungjawab di bagian masing-masing. KSP yang ada
antara lain:
a. KSP
Kominfo
b. KSP
Logistik
c. KSP
Keamanan
d. KSP
Laundry
B. Unit
Non Struktural
1. Ketua
Komite Medik
Ketua Komite Medik adalah
pejabat non struktural yang terdiri dari tenaga ahli dan profesi dibentuk untuk
memberikan pertimbangan strategis kepada Direktur dalam rangka peningkatan dan
pengembangan pelayanan rumah sakit.
2. Ketua
Sosio Pastoral dan Spiritual
Ketua
Sosio Pastoral dan Spiritual adalah pejabat non sturktural yang terdiri dari
tenaga ahli dan profesi dibentuk untuk memberikan pertimbangan strategis kepada
Direktur dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan rumah sakit khususnya
dibidang Sosio Pastoral dan Spiritual.
3. Ketua
Satuan Pengawas Internal
Ketua
Satuan Pengawas Internal adalah pejabat non sturktural yang terdiri dari tenaga
ahli dan profesi dibentuk untuk memberikan pertimbangan strategis kepada
Direktur dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan rumah sakit.
4. Panitia/
Tim/ Komite
Panitia/ Tim/ Komite adalah
wadah non struktural yang terdiri dari tenaga ahli dan profesi dibentuk untuk
bertanggungjawab terhadap bidang tertentu dalam rangka peningkatan dan
pengembangan pelayanan rumah sakit. Panitia/ Tim/ Komite yang ada di RSU
Bethesda Lempuyangwangi :
a. Komite
Farmasi & Terapi
b. Komite
& Tim PPIRS (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit)
c. Komite
K3 & Penanggulangan Bencana
d. Tim
Mutu & Keselamatan Pasien Rumah Sakit
e. Tim
TB-DOTS
f. Tim
HIV
g. Tim
PONEK, EMAS & MOW
h. Tim
PKPR & Kekerasan Gender
i.
Tim PKRS
j.
Tim Yes 118
k. Tim
Pamulasaraan Jenasah
l.
Tim Urusan JKN dan
Jaminan Kesehatan Lain
m. Panitia
Akreditasi
D. Sarana dan Prasarana
Pendukung Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.
1. Pelayanan
kesehatan
Rumah
Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta melayani pasien dengan jalur
pelayanan antara lain :
a.
Jamkesda Kota
Yogyakarta
b.
Jamkesos
c. Asuransi
d.
BPJS
2.
Fasilitas rawat jalan
Pelayanan
rawat jalan ditunjang oleh dokter spesialis ( konsultan ) yang meliputi :
a. Instalasi
Gawat Darurat ( IGD ) buka 24 jam.
b.
Klinik umum
c.
Klinik gigi
d.
Klinik penyakit dalam
e.
Klinik kebidanan dan
kandungan
f.
Klinik anak
g. Klinik
bedah anak
h.
Klinik bedah umum
i.
Klinik saraf
j.
Klinik THT – alergi
k.
Klinik jantung
l.
Klinik kulit dan
kelamin
3. Fasilitas
rawat inap
a.
VIP
Fasilitas
VIP diantaranya adalah :
1)
Satu kamar untuk satu
pasien
2)
Satu bed penunggu
3)
Kamar mandi dalam
4)
Air panas, meja, kursi,
ac, tv, kulkas/non kulkas, almari, teras.
b.
Kelas 1
Fasilitas
kelas 1 diantaranya adalah :
1)
Satu kamar untuk satu
pasien
2)
Satu bed penunggu
3)
Kamar mandi dalam
4)
Meja, kursi, kipas
angin/ac dan almari.
c.
Kelas II
Fasilitas
kelas II diantaranya adalah :
1)
Satu kamar untuk dua
pasien ( khusus isolasi satu pasien )
2)
Kamar mandi dalam
3)
Meja, laci pasien,
kursi, kipas anggin/ac, tv.
d.
Kelas III
Fasilitas
kelas III diantaranya adalah :
1)
Satu kamar untuk tiga
pasien
2)
Kamar mandi di luar
3)
Meja, laci pasien,
kursi dan kipas anggin.
e.
Kelas III ( IBU )
Fasilitas
kelas III ibu diantaranya adalah :
1)
Satu kamar untu dua
pasien
2)
Kamar mandi dalam
3)
Kipas anggin, meja,
laci pasien, kursi penunggu.
f.
Fasilitas pelayanan
penunjang medik
a.
Konsultasi gizi
b.
Rehab medik :
1)
Fisioterapi
2)
Senam hami
3)
Pijat bayi
c.
Radiologi
d.
Laboratorium
e.
Farmasi
f.
Rekam medik
g.
Pelayanan medis spesialis,
terdiri dari :
a.
Perawatan gigi
b.
Penyakit dalam
c.
Kebidanan dan kandungan
d.
Bedah umum
e.
Anak
f.
Saraf
g.
THT dan alergi
h.
Kulit dan kelamin
i.
Konsultasi psikologi
j.
Pantologi anatomi
k.
Jantung
l.
Konsultasi kesehatan
jiwa.
E. Aspek Manajemen RSU
Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta
Rumah
Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta juga memiliki beberapa aspek
manajemen sama seperti rumah sakit lain pada umumnya guna mendukung pelaksanaan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat dan dukungan bagi pasien atau masyarakat Yogyakarta
khususnya. Aspek-aspek tersebut antara lain adalah :
1. Aspek
manajemen sumber daya manusia
h.
Jumlah karyawan Rumah
Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi
Jumlah
tenaga kesehatan berdasarkan keahliannya di Rumah Sakit Umum Bethesda
Lempuyangwangi Yogyakarta diantaranya :
a.
Daftar dokter
berdasarkan keahliannya
Table 3.1
|
No
|
Jenis
keahlian
|
Jumlah
|
|
1
|
Dokter umum
|
11
|
|
2
|
Gigi
|
3
|
|
3
|
Penyakit dalam
|
2
|
|
4
|
Kandungan dan kebidanan
|
3
|
|
5
|
Bedah umum
|
2
|
|
6
|
Anak
|
3
|
|
7
|
Saraf
|
3
|
|
8
|
THT dan alergi
|
2
|
|
9
|
Kulit dan kelamin
|
1
|
|
10
|
Konsultasi psikologi
|
1
|
|
11
|
Pantologi anatomi
|
1
|
|
12
|
Jantung
|
1
|
|
13
|
Konsultasi kesehatan jiwa
|
1
|
|
Jumlah
|
34
|
|
Sumber
: Daftar nama karywan ( per 9 maret 2015 )
b. Daftar
nama karyawan tenaga medis dan non medis berdasarkan bagian atau gugus tugasnya.
TABLE 3.2
|
No.
|
Bagian
|
Jumlah
|
|
1
|
SDM
& Umum
|
9
|
|
2
|
Keuangan
& akuntansi
|
13
|
|
3
|
Rekam
medis
|
11
|
|
4
|
Instalasi
farmasi
|
12
|
|
5
|
Instalasi
laboratorium
|
6
|
|
6
|
Instalasi
radiologi
|
3
|
|
7
|
Instalasi
gizi
|
8
|
|
8
|
Instalasi
rehab medic
|
3
|
|
9
|
PSP
& sanitasi
|
1
|
|
10
|
KSP
logistic
|
1
|
|
11
|
KSP
keamanan
|
8
|
|
12
|
Driver
|
2
|
|
13
|
KSP
laundry
|
7
|
|
14
|
KSP
operator
|
4
|
|
15
|
Ruang
rawat inap
|
25
|
|
16
|
Ruang
IGD, KB & VK
|
20
|
|
17
|
Ruang
rawat jalan
|
15
|
|
18
|
SPI
|
1
|
|
19
|
Komite
medic
|
1
|
|
20
|
Pastoral
|
1
|
|
Jumlah
|
151
|
|
Sumber : Daftar nama
karywan ( per 9 maret 2015 )
Manajemen sumber daya manusia yang pada Rumah
Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta lebih dikenal dengan istilah para
medis pada unit administrasi yang memiliki tugas antara lain :
1)
Melaksanakan
perencanaan, penerimaan dan pembinaan karier bagi karyawan personil Rumah Sakit
Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.
2)
Melakukan pencatatan
dan pengarsiapan data-data personil Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi
Yogyakarta.
3)
Melakukan pencacatan
dan pelaporan semua data medik.
4)
Melaksanakan
korespondensi, kearsipan, pedokumentasi, dan perpustakaan Rumah Sakit Umum
Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.
2.
Aspek Manajemen
Operasional
Manajemen
operasional di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta lebih
dikenal sebagai para medis unit material dan alat kesehatan yang memiliki tugas
antara lain :
a.
Melaksanakan kegiatan
operasional kesehatan masyarakat umum.
1)
Jasa tenaga medis atau
non medis.
2)
Formulir
3)
Bekal kesehatan
4)
Evaluasi
b.
Peningkatan pelayanan
kesehatan pasien
1)
Tambah bekal kesehatan
2)
Alat kesehatan
3)
Dukungan keuangan
restitusi
4) Meningkatkan
kemampuan operasional Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.
3. Aspek
Manajemen Keuangan
Pendapatan Rumah Sakit Umum Bethesda
Lempuyangwangi Yogyakarta didapat dari beberapa komponen diantaranya adalah :
a)
Pasien rawat jalan
b)
Pasien rawat inap
c)
Laboratorium
d)
Fisioteterapi
e)
Pelayanan gizi dan
konsultasi gizi
f)
Obat
g)
Kenderaan ambulance
h)
Tinadakan yang
diberikan meliputi jasa medis dan keperawatan.
4.
Aspek Pemasaran
Strategi pemasaran di Rumah Sakit
Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta yang lebih dikenal dengan unit humas
dan marketing. Adapun jenis saluran distribusi yang ditawarkan oleh pihak Rumah
Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta antara lain :
a.
Jenis barang yang
dipasarkan atau ditawarkan dirumah sakit berbentuk pelayanan kesehatan seperti
:
1)
Pelayanan rawat jalan
2)
Pelayanan rawat inap
3)
Pelayanan rawat darurat
4)
Pelayanan penunjang
medik
5)
Pelayanan fisioterapi
6)
Pelayanan konsultasi
kesehatan
7)
Pelayanan kebidanan (
pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan KB/KIA, tindakan persalinan )
8)
Pemeriksaan kesehatan
dan
9)
Pelayanan lainnya.
b.
Promosi
Promosi
di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta bersifat promosi sosial
tidak lepas dari etika pemasaran yang berlaku di instansi rumah sakit pada
umumnya. Promosi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi
Yogyakarta tidak lepas dari pengawasan satuan pengawas internal ( SPI ). Adapun
bentuk-bentuk promosi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Bethesda
Lempuyangwangi Yogyakarta misalnya, pendekatan langsung dengan pasien,
periklanan melalui brosur dan media masa dalam bentuk website.
BAB IV
HASIL ANALISA DAN PEBAHASAN
A. HASIL ANALISA
Hasil Analisa yang didapat
penulis saat melalukan magang di RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta adalah
sebagai berikut:
1.
Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis
Dalam proses
penyimpanan berkas rekam medis dibuat suatu
system yang dipergunakan untuk membuat kemudahan penyimpanan dan kemudahan
penemuan berkas rekam medis yang sudah tersimpan secara cepat bilamana berkas
tersebut sewaktu-waktu diperlukan. Untuk menjaga keamanan dan kerahasiaan
berkas rekam medis, ada dua asas
penyimpanan berkas rekam medis yang digunakan adalah:
a.
Asas Sentralisasi
Seluruh informasi tentang seorang pasien disimpan di
satu berkas dengan satu nama, baik itu berkas rekam medis rawat inap atau
berkas rekam medis rawat jalan. Tujuan utamanya adalah bahwa unit rekam medis
memelihara rekam medis pasien secara berkesinambungan dan tetap tersedia saat
diperlukan. Adapun kelebihan dan kelemahan dalam penggunaan asas sentralisasi.
Kelebihan asas sentralisasi adalah sebagai berikut:
1) Semua informasi tentang pasien tersimpan
didalam satu berkas
2) Mengurangi dukplikasi rekam medis
3) Mengurangi jumlah biaya untuk peralatan
dan ruangan
4) Meningkatkan efisiensi kerja petugas
penyimpanan
5) Mudah menerapkan system penomoran unit
Kelemahan asas sentralisasi adalah
sebagai berikut:
1) Petugas menjadi lebih sibuk karena harus
menangani unit rawat jalan dan unit rawat inap
2) Tempat penerimaan pasien harus bekerja
sama 24 jam
System penyimpanan berkas rekam
medis biasanya menggunakan data lengkap
dan berkas yang simpan, baik baik berupa huruf maupun angka yang disusun
menurut urutan tertentu. Pada rumah sakit umum Bethesda Lempunyangwangi lebih
dominan menggunakan system desentralisasi yaitu pengelolaan dan penyimpanan
berkas rekam medis pasien rawat inap dan
pasien rawat jalan disimpan secara terpisah.
b.
Asas
Desentralisasi
Berkas rekam medis pasien rawat jalan dan berkas
rekam medis pasien rawat inap disimpan secara terpisah. Maksudnya bahwa selama
berkas rekam medis masih aktif dipergunakan, maka berkas rekam medis tersebut
dikelola dan disimpan pada unit rekam medis. Adapun kelebihan dan kelemahan
dalam penggunaan asas desentralisasi.
Kelebihan
asas desentralisasi adalah sebagai berikut:
1) Beban kerja petugas menjadi ringan
2) Pengawasan terhadap rekam medis lebih
mudah karena lingkungan lebih sempit
3) Efisiensi waktu yaitu pasien cepat
terlayani
Kelemahan
asas desentralisasi adalah sebagai berikut:
6) Duplikasi pembuatan berkas rekas medis
tentang informasi riwayat penyakit pasien terpisah
7) Membutuhkan biaya tinggi dalam pengadaan
rekam medis dan alat bangunan
8) Bentuk atau isi berkas rekam medis
berbeda
9) Menghambat pelayanan bila rekam medis
dibutuhkan klinik lain
Penyimpanan berkas rekam medis pasien
rawat inap pada rumah sakit umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta adalah
sebagai berikut:
a. Berkas rekam medis inaktif dipisahkan
dari penyimpanan induk ke tempat penyimpanan yang tidak aktif.
b. Tempat penyimpanan berkas rekam medis
rawat inap di bagian sub rekam medis rawat
inap.
c. Penyimpanan berkas rekam medis dengan
menggunakan angka akhir ( terminal digit ). Contohnya: 15-55-53 akhiran 2 digit
53 menunjukkan lokasi berkas, angka 55 menunjukkan nama susunan rak penyimpanan
pada lokasi berkas, digit pertama menunjukkan urutan catatan medic pada susunan
rak.
Penyimpanan berkas rekam medis pasien
rawat jalan pada rumah sakit umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta adalah
sebagai berikut:
a. Setelah selesai dikerjakan oleh petugas,
koding rekam medis dicek terlebih dahulu selanjutnya disusun berdasarkan nomor
urut.
b. Kemudian berkas rekam medis dipisahkan
antara berkas rekam medis aktif dan inaktif.
c. Berkas rekam medis rawat jalan akan di
kembalikan ke sub bagian rekam medis urusan rawat jalan sebelum berakhir jam
kerja, sedangkan berkas rekam dari instalasi gawat darurat dikirim keesokan
hari dan akan di gabungkan kemudian diberi map.
d. Dilakukan pengecekan sesuai dengan
ekspedisi pengiriman dari polik klinik atau instalasi rawat darurat dan ruang
rawat inap selanjutnya diserahkan kepada petugas koding.
e. Pasien yang membutuhkan rawat inap,
berkas rekam medis rawat jalan dikirim oleh petugas rawat inap ke petugas
penerimaan berkas rekam medis dalam waktu dan hari kerja.
Adapun tujuan penyimpanan berkas rekam
medis pada rumah sakit umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta adalah:
a. Menyediakan rekam medis secara utuh atau
lengkap apabila sewaktu-waktu diperlukan
b. Menghindari pemborosan waktu dan tenaga
dalam penemuan kembali berkas rekam medis
c. Memanfaatkan tempat dan sarana
penyimpanan
d. Mengamankan dan melindungi rekam medis
dari bahaya kerusakkan
e. Menjaga informasi ( kerahasiaan ) yang
mendukung di dalamnya
Langkah
yang dilakukan oleh rumah sakit umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta adalah:
1. Petugas penyimpanan dan pelaporan rekam
medis ( reporting )
a. Petugas menuju rak penyimpanan dan
pelaporan dengan nomor awal 53 sebagai nomor primer.
b. Petugas memperhatikan nomor 55 sebagai
nomor sekunder kemudian petugas mencari urutan ke 55 pada rak nomor 55.
c. Petugas memperhatikan nomor 19 sebagai
nomor tersier.
d. Petugas menuju ke nomor 19 dimana berkas
rekam medis tersebut disimpan.
2. Petugas TPPRJ dan TPPRI
Petugas dari TPPRJ dan TPPRI yang memerlukan berkas
rekam medis pasien. Setelah petugas penyimpanan dan pelaporan mendapat berkas
rekam medis yang diperlukan langsung diserahkan kepada petugas dari TPPRJ dan
TPPRI. Berkas rekam medis tersebut kemudian diserahkan kepada pasien
Adapun kelebihan dan kelemahan dari
penyimpanan berkas rekam medis dengan system terminal digit di rumah sakit umum Bethesda Lempuyangwangi
Yogayakarta, antara lain:
1. Kelebihan system terminal digit sebagai
berikut:
a. Pertambahan rekam medis ke 100 tempat
kelompok angka akhir dalam rak penyimpanan.
b. Jumlah pertambahan berkas rekam
medis terkontrol, memudahkan perencanaan
alat atau rak
c. Pekerjaan penyimpanan maupun pengambilan
dapat dibagi secara merata.
d. Miffille ( salah simpan ) dapat dicegah karena
petugas hanya memperhatikan dua angka akhir saja menuju lokasi kelompok angka
akhir.
2. Kelemahan system terminal digit sebagai
berikut:
a. Diperlukan waktu untuk melatih petugas
mengenai system penyimpanan berkas rekam medis dengan system terminal digit.
B.
PEMBAHASAN
Tabel 3.3 :
Perbandingan Teori dan Praktek
|
No
|
Teori
|
Praktek
|
|
1.
|
Penyimpanan Berkas Rekam Medis
a.
Sentralisasi
1)
Seluruh
informasi tentang seseorang pasien disimpan disatu berkas dengan satu nama.
b.
Desentralisasi
1)
Berkas
rekam medis pasien rawat jalan dan rekam medis rawat inap disimpan secara
terpisah
|
Penyimpanan Berkas Rekam Medis
a. Sentralisasi
1)
Penyatuhan
seluruh berkas rekam medis disatu berkas dengan satu nama
b. desentralisasi
1)
Memisahkan
rekam medis rawat jalan dan rawat inap
|
|
|
Penyimpanan Berkas Rekam Medis Pasien Rawat Inap
a.Berkas rekam medis inaktif dipisahkan dari penyimpanan
induk ke tempat penyimpanan yang tidak aktif
|
Penyimpanan Berkas Rekam Medis Pasien Rawat Inap
a.
rekam medis inaktif dipisahkan dari
penyimpanan induk ke tempat penyimpanan yang tidak aktif
|
|
|
b.
penyimpanan berkas rekam medis menggunakan
angka akhir (terminal digit). 15-55-53 akhiran 2 digit 53 menunjukan lokasi
berkas, 55 menunjukan nama susunan rak penyimpanan, 15 menunjukan urutan
catatan medic pada susunan rak
|
b. 15-55-53 akhiran 2 digit 53 menunjukan lokasi
berkas, 55 menunjukan nama susunan rak penyimpanan, 15 menunjukan urutan
catatan medic pada susunan rak.
|
|
|
Penyimpanan
Berkas Rekam Medis Rawat Jalan
a.
Selesai dikerjakan oleh petugas, koding rekam medis dicek terlebih
dahuluh selanjutnya disusun berdasarkan nomor urut.
b.
Kemudian berkas rekam medis dipisahkan antara berkas rekam medis aktif
dan inaktif
c.
Berkas rekam medis rawat jalan akan dikembalikan ke sub bagian rekam
medis urusan rawat jalan sebelum berakhir jam kerja.
d.
Dilakukan pengecekan sesuai dengan ekspedisi pengiriman dari poliklinik
atau instalasi rawat darurat dan ruang inap selanjutnya diserahkan kepada petugas
koding.
|
Penyimpanan
Berkas Rekam Medis Rawat Jalan
a.
Selesai dikerjakan oleh petugas, koding rekam medis dicek terlebih
dahuluh selanjutnya disusun berdasarkan nomor urut.
b.
Kemudian berkas rekam medis dipisahkan antara berkas rekam medis aktif
dan inaktif
c.
Berkas rekam medis rawat jalan akan dikembalikan ke sub bagian rekam
medis urusan rawat jalan sebelum berakhir jam kerja.
d.
Dilakukan pengecekan sesuai dengan ekspedisi pengiriman dari poliklinik
atau instalasi rawat darurat dan ruang inap
selanjutnya diserahkan kepada petugas koding.
|
|
|
Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis
Menggunakan System Terminal Digit.
a.
penyimpanan berkas rekam medis menggunakan angka akhir (terminal digit). 15-55-53 akhiran 2
digit 53 menunjukan lokasi berkas, 55 menunjukan nama susunan rak
penyimpanan, 15 menunjukan urutan catatan medic pada susunan rak
|
Sistem
Penyimpanan Berkas Rekam Medis Menggunakan Systen Terminal Digit.
a.
15-55-53 akhiran 2 digit 53 menunjukan lokasi berkas, 55 menunjukan nama
susunan rak penyimpanan, 15 menunjukan urutan catatan medic pada susunan rak.
|
|
|
||
|
Dari tabel diatas maka adapun kelebihan dan kekurangan
sebagai berikut:
1.
Kelebihan
a.
Dalam melakukan Penyimpanan Berkas Rekam Medis,
di RSU Bethesda Lempuyangwangi telah mengikuti tahapan-tahapan sesuai dengan
teori Penyimpanan Berkas Rekam Medis.
b.
Sistem
Penyimpanan Yang Digunakan Oleh Rumah Sakit Bethesda Lempuyangwangi adalah System Terminal Digit atau System
Penyimpanan Berkas Rekam Medis Menggunakan Angka Akhir.
c.
Meski dalam
praktek tidak selengkap teori yang perna kita pelajari namum sesuai dengan
apa yang penulis dapatkan pada saat magang adalah RSU Bethesda Lempuyangwangi
Yogyakarta mampu menjaga
keamanan dan kerahasiaan berkas rekam medis di Rumah Sakit.
d.
Di RSU Bethesda
Lempuyangwangi telah melakukan
penyimpanan sesuai dengan teori Rekam Medis.
2.
Kekurangan
a.
Belum adanya
Standar Operasional Sistem (SOP).di RSU Bethesda Lempuyangwangi tentang
Penyimpanan,pengambilan, dan Peminjaman Berkas Rekam Medis.
b.
Penyimpanan
Berkas Rekam Medis yang dilakukan di RSU Bethesda Lempuyangwangi belum
tertata dengan baik.
|
||
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan dari
bab-bab sebelumnya yang telah penulis susun dari hasil pelaksanaan Praktek
Kerja Lapangan (PKL) maka penulis dapat membuat kesimpulan sebagai berikut.
1.
Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis RSU Bethesda
Lempuyangwangi Yogyakarta
a.
Asas Sentralisasi
b.
Asas Desentralisasi
2.
Tujuan Penyimpanan Berkas Rekam Medis RSU Bethesda
Lempuyangwangi Yogyakarta
a. Menyediakan rekam medis secara utuh atau lengkap apabila
sewaktu-waktu diperlukan.
b.
Menghindari
pemborosan waktu dan tenaga dalam penemuan kembali berkas rekam medis
c.
Memanfaatkan tempat
dan sarana penyimpanan
d.
Mengamankan dan
melindngi rekam medis dari bahaya kerusakan
e.
Menjaga informasi (
kerahasiaan ) yang mendukung di dalamnya.
B.
Saran
Adapun penulis dapat memberikan saran terhadap RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta untuk
perbaikan yang akan datang, yaitu:
1. Penyimpanan dan pemeliharaan berkas rekam medis,
masih perlu dievaluasi kembali secara
berkesenambungan agar tetap tersedia saat berkas itu diperlukan.
2. Dalam
penyimpanan perlu memperhatikan tempat penyimpanan atau rak penyimpanan berkas rekam
medis agar berkas rekam medis tersebut dapat diamankan dari bahaya-bahaya yang
kita tidak inginkan .
3.
Pihak
rumah sakit sebaiknya membuat brosur atau buku yang berisi tentang prosedur dan
sistem penyimpanan yang efektif
agar setiap
mahasiswa PKL lebih memahami tentang sistem penyimpanan
yang digunakan.
4.
Petugas
di unit rekam medis diharapkan memperbaiki sistem pengarsipan BRM pasien, agar
tidak terjadi lagi kekeliruan pada saat pencarian berkas rekam medis pasien.
Sumadi Suryabrata,
Metodologi Penelitian
, (Jakarta : Raja Grafindo Persada,
2003)
Sugiyono, 2003.
Metode Penelitian Administrasi
. Bandung: Alfabeta IKAPI
maaf mau tanya untuk daftar pustaka nya mana ya?
BalasHapus1xbet korean domain koreanbet.com.kr - legalbet.co.kr
BalasHapus1xbet korean domain 1xbet korean koreanbet.com.kr. kadangpintar Sportsbook. หาเงินออนไลน์ Betway Group Betway, Gauteng. 1xbet. Sportsbook, Betway, Gauteng.
888 agrees to $2.6bn deal for online sports betting giant in NJ
BalasHapus888 Holdings Inc (NASDAQ: 888.HK) 나주 출장샵 has entered 청주 출장마사지 into a new agreement 당진 출장마사지 to acquire the online gambling 문경 출장안마 group 888 Holdings, 양산 출장샵