Jumat, 26 Februari 2016

cotoh TA SISTEM PENYIMPANAN BERKAS REKAM MEDIS DI RUMAH SAKIT UMUM BETHESDA LEMPUYANGWANGI YOGYAKARTA”.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat menentukan pencapaian tujuan nasional. Pembangunan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, serta meningkatkan dan mengembangkan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit.Oleh karena itu agar pembangunan kesehatan dapat terarah dan tertuju pada satu tujuan yang diinginkan yaitu dengan mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, maka perlu acuan kebijakan sebagai pedoman untuk pelaksanaannya.
Rumah sakit sebagai salah satu pelayanan kesehatan yang memiliki peran yang sangat srtategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Peran strategis ini didapat karena rumah sakit adalah fasilitas kesehatan yang padat teknologi dan padat pakar.( AditamaTjandra Yoga, 2003: 11)
Unit rekam medis merupakan satu diantara penunjang medis yang dibutuhkan di setiap rumah sakit yang bertanggung jawab dalam pengelolaan rekam medis pasien. Pelayanan rekam medis yang baik di tandai dengan kecepatan pelayanan dan tersedianya rekam medis saat dibutuhkan.
Berbagai macam cara dan sistem yang digunakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, salah satunya adalah sistem rekam medis yang baik. Berkas rekam medis dapat digunakan sebagai alat komunikasi antar pemberi pelayanan kesehatan. Mutu pelayanan dapat ditingkatkan dengan baik, bila didukung oleh keamanan dan kerahasiaan berkas rekam medis pasien di ruangan penyimpanan berkas rekam medis itu sendiri.
Seperti yang kita ketahui rekam medis pasien merupakan arsip yang bersifat rahasia. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.269/MENKES/PER/III/2008 tentang rekam medis, pasal 10 ayat (1) bahwa isi berkas rekam medis mengandung nilai kerahasiaan yang harus dijaga karena didalam rekam medis mengandung riwayat pengobatan pasien dari awal sampai akhir pasien tersebut berobat.Oleh karena itu rumah sakit bertanggung jawab atas keamanan dan kerahasiaan rekam medis pasien.
Untuk menjaga keamanan dan kerahasiaan rekam medis pasien maka diperlukan pengelolaan rekam medis yang baik yaitu salah satunya seperti penggunaan ruang penyimpanan rekam medis yang baik. Ruang rekam medis dapat dikatakan baik apabila ruangan tersebut dapat menjamin sistem penyimpanan  berkas rekam medis pasien seperti terhindar dari ancaman kehilangan, bencana dansegala sesuatu yang dapat membahayakan rekam medis tersebut.
Secara historis Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi terletak di Jalan Hayam Wuruk No 6 Yogyakarta dan berdiri pada tahun 1926.Rumah sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi awalnya hanyalah sebuah klinik bersalin yang dikenal sebagai rumah Klinik Bersalin “Zuster Prins” yang memberikan pelayanan cukup memuaskan di bidang kesehatan Ibu dan Anak.Namun dengan adanya pelayanan tersebut kondisi bangunan yang sangat sederhana, peralatan dan tenaga kerja yang minim dan kurang memadai.
Pada tahun 1998 berubah nama dan fungsi pelayanannya sebagai Bidang Pelayanan Kesehatan ( BIDYANKES ) Lempuyangwangi yang pada saat itu merupakan satelit atau bagian daripada Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Agar tetap berkomitmen menjaga kualitas dalam segi kualitas pelayanan kesehatan, pada tahun 2000 berubah nama dan fungsinya lagi menjadi Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak ( RSKIA) Bethesda Lempuyangwangi, dengan status independen atau berdiri sendiri.
Berdasarkan observasi awal di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta, penulis menemukan bahwa ruang penyimpanan rekam medis letaknya terpisah dengan ruang unit rekam medis, yaitu ± 250 m dari ruang unit rekam medis membuat pengontrolan sulit dilakukan.
Salah satu layanan yang sangat penting adalah sistem penyimpanan berkas rekam medis, layanan ini sangat di butuhkan oleh pasien. Selain itu pelayanan sistem penyimpanan berkas rekam medis juga ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri sehingga kepuasan pasien pun dapat selalu terpenuhi, dan dalam hal pencapaian layanan prima maupun peningkatan mutu pelayanan.           
 Berdasarkan uraian di atas maka penulis dapat mengambil judul “SISTEM PENYIMPANAN BERKAS REKAM MEDIS DI RUMAH SAKIT UMUM BETHESDA LEMPUYANGWANGI YOGYAKARTA”.

B.       Rumusan Masalah
      Bagaimana Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis Di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta ?  

C.    Tujuan Penilitian
Tujuan dari penilitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Tujuan Umum
Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan mempelajari sejauh mana aktifitas penulis menguasai semua teori tentang Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis Di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta
2.      Tujuan Khusus
Untuk mengetahui lebih jelas tentang Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis Di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Manfaat bagi penulis
a.       Memenuhi salah satu syarat kelulusan di AMA “Dharmala”.
b.      Meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan ketempilan di bidang Manajemen Rumah Sakit.
c.       Dapat menambah wawasan serta pengalaman dalam mengahadapi dunia kerja.
2.   Manfaat bagi Rumah Sakit
a.       Mendapat masukan-masukan dari peserta PKL dalam rangka perbaikan kualitas pelayanan sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari.
b.      Dapat membantu kegiatan para karyawan Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta
3.   Manfaat Bagi Lembaga (AMA DHARMALA)
a.       Melihat sejauh mana mahasiswa dapat menerapkan teori yang didapat dari pembelajaran
b.      Terbinanya jaringan kerja sama dengan instansi tempat PKL dalam upaya menigkatkan keterkaitan dan kesepadanan antara subtansi,  akademik dengan pengetahuan dan ketrampilan SDM yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia.
4.      Manfaat bagi masyarakat
a.      Memberikan informasi kepada masyarakat Yogyakarta mengenai Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis Di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.

E.     Metode Penilitian
1.      Jenis Data
a.       Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti berasal dari sumber data yang pertamanya ( Sumadi Surya Brata, 2003:93 ). Jadi data yang dikumpulkan diperoleh langsung dari sumbernya yaitu pada unit penyimpanan berkas rekam medis. Dan juga ada data primer lainnya yang diambil dalam laporan ini meliputi profil rumah sakit dan data rekam medic.
b.      Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapat secara tidak langsung atau melalui  orang lain. Biasanya data tersebut telah tersedia dalam bentuk dokumen seperti keadaan demografi suatu daerah dan produktifitas suatu organisasi ( Sumadi Suryabrata, 2003: 39 ). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari buku-buku tentang rumah sakit dan data mengenai rekam medis.


2.      Metode pengumpulan Data
a.       Observasi
Metode obervasi adalah cara pengumpulan data dengan melaksanakan dan pendapatan secara cermat dan sistematis terhadap gejala-gejala yang sedang diteliti. (Kuncoro Mudrajat, 2003:134). Penulis mendapatkan data dengan cara mengadakan pengamatan langsung tentang objek yang diteliti.
b.      Wawancara
Metode wawancara adalah suatu cara yang dilakukan untuk mendapatkan keterangan secara lisan dari seorang atau responden dengan bercakap dan berhadapan muka dengan responden (Soekidjo Notoadmodjo,2005:102). Dalam hal ini penulis mendapatkan dengan cara bertanya langsung pada karyawan di Rumah Sakit. Untuk memperoleh data yang dikumpulkan.
c.       Studi Pustaka
Studi Pustaka Adalah data yang dilakukan dengan mengumpulkan data dengan cara mempelajari, membahas, menganalisis suatu masalah yang di teliti(Arifin, 2003:21).
d.      Metode Analisa
Metode analisa adalah metode yang direncanakan dan dasar teoritis untuk menganalisis data. Data yang digunakan dalam penulisan laporan ini yaitu Deskriptif Kualitatif  adalah data yang ditulis dengan menggunakan klasifikasi-klasifikasi yang berbentuk kata atau kalimat, skema atau gambar. Sedangkan kesimpulan dengan metode berfikir deduktif, yaitu penarikan kesimpulan untuk hal spesifik dari gejala umum. (Kuncoro Mudrajat, 2003:89).

F.     Sistematika Penulisan

BAB I  PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Jenis dan Metode Pengumpulan Data dan Sistematika Penulisan.

BAB II  LANDASAN TEORI
Bab ini menyajikan konsep-konsep teoritis yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas dan sebagai dasar untuk mengadakan pembahasan penelitian. Pada bab ini akan membahas tentang Pengertian Sistem, Pengertian Pelayanan, Pengertian Rekam Medis, Tujuan dan Sasaran Rekam Medis, Pengertian Rumah Sakit,Tipe Rumah Sakit, Kepemilikan Rumah Sakit dan Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis di RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta. Ada pula  teori-teori lain yang akan membahas tentang tentang Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis dan beberapa teori lain yang mendukung.

BAB III GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT BETHESDA LEMPUYANGWANGI YOGYAKARTA
Dalam bab ini penulis menjelaskan tentang Gambaran umum Rumah Sakit yang juga terdiri dari Latar Belakang Rumah Sakit, Sejarah, Tujuan Umum atau Khusus, Visi dan Misi, Falsafah, serta Motto RSU Bethesda Lempuyangwangi. Dalam Bab ini penulis juga mencantumkan beberapa data RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.

BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN
Bab ini membahas tentang Analisis data dan Hasil Pembahasan yang berhubungan dengan Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis di RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.

BAB V PENUTUP                          
Bab ini menjelaskan tentang kesimpulan yang diambil dalam melakukan penelitian di Rumah Sakit dan Saran sebagai masukan dari perkembangan serta kemajuan Rumah Sakit.

  DAFTAR PUSTAKA
     LAMPIRAN















                                                                 
                                                                  BAB II
LANDASAN TEORI


A.    Pengertian Sistem
Sistem merupakan suatu susunan, rakitan komponen atau bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan yang utuh dengan sifat saling tergantung, saling mempengaruhi, dan saling berhubungan (Moh. Anief,2005: 19). Apabila salah satu bagian mengalami kerusakan akan mengakibatkan terganggunya seluruh sistem.
Sistem dapat mempunyai arti yang berbeda-beda tetapi masih dalam tujuan yang sama. Beberapa arti dari sistem antara lain :
a.       Sistem adalah kumpulan bagian-bagian yang berhubungan dan membentuk kesatuan yang kompleks dan masing-masing bagian bekerja sama, bebas dan terkait dalam mencapai kesatuan sasaran dalam situasi yang kompleks (Moh. Anief,2005: 19).
b.      Sistem adalah sekumpulan unsur yang berhubungan antara satu dengan yang lainnya sedemikian rupa berproses mencapai tujuan tertentu, atau suatu tatanan dimana terjadi suatu kesatuan dari berbagai unsur yang saling berkaitan secara teratur menuju pencapaian unsur dalam batas lingkungan tertentu (Ery Rustiyanto,2010:3).

Dari kedua definisi di atas mengandung pengertian yang sama atau saling melengkapi, sehingga pengertian sistem akan menjadi suatu kesatuan dari subsistem-subsistem dan prosedur-prosedur yang terintegrasi, disusun secara skematis dan baku untuk melaksanakan atau untuk mencapai tujuan tertentu suatu perusahaan atau organisasi. Pemeliharaan atas sistem tidak hanya menjadi fungsinya saja tetapi juga senantiasa mengembangkan kedayagunaannya sesuai dengan perkembangan dan kemajuan organisasi dan mengikuti perkembangan teknologi.

B.     Pengertian Pelayanan
Pelayanan merupakan tatanan yang bertujuan tercapainya derajat kesehatan yang bermutu tinggi dan merata, melalui upaya – upaya dalam tatanan tersebut yang dilaksanakan secara efisien dan berkualitas serta terjangkau. Pelayanan kesehatan terdiri atas dua bagian,  yaitu pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam pelayanan kesehatan perorangan terdapat berbagai upaya untuk peningkatan kesehatan,  yaitu mulai dari promosi kesehatan , pencegahan penyakit dan kecacatan, deteksi dini penyakit / kecacatan dan penanganan yang tepat agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut atau kecacatan limitasi kecacatan akibat penyakit dan, rehabilitasi sedangkan pelayanan kesehatan masyarakat juga dikenal upaya health promotion specific protection (Gemala R. Hatta,  2008:6).

C.    Pengertian Rekam Medis.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/2008 tentang rekam medis, rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan  lain yang telah diberikan kepada pasien. Rekam medis merupakan berkas/dokumen penting bagi setiap instansi rumah sakit. Menurut  Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2008:1), rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.  Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang rekam medis dijelaskan bahwa rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.  Sedangkan menurut Huffman dalam Fajri (2008:5) rekam medis adalah fakta yang berkaitan dengan keadaan pasien, riwayat penyakit dan pengobatan masa lalu serta saat ini yang ditulis oleh profesi kesehatan yang memberikan pelayanan kepada pasien tersebut.  Dengan melihat ketiga pengertian di atas dapat dikatakan bahwa suatu berkas rekam medis mempunyai arti yang lebih luas daripada hanya sekedar catatan biasa, karena didalam catatan tersebut sudah memuat segala informasi menyangkut seorang pasien yang akan dijadikan dasar untuk menentukan tindakan lebih lanjut kepada pasien. 

D.    Tujuan dan Kegunaan Rekam Medis
Tujuan rekam medis menurut (Hatta 2008) dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu tujuan primer dan tujuan sekunder.
1. Tujuan Primer
Tujuan primer rekam medis ditujukan kepada hal yang paling berhubungan langsung dengan pelayanan pasien. Tujuan primer terbagi dalam lima kepentingan, yaitu :
a)      Untuk kepentingan pasien, rekam medis merupakan alat bukti utama yang mampu membenarkan adanya pasien dengan identitas yang jelas dan telah mendapatkan berbagai pemeriksaan dan pengobatan di sarana pelayanan kesehatan dengan segala hasil serta konsekuensi biayanya.
b)      Untuk kepentingan pelayanan pasien, rekam medis mendokumentasikan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan, penunjang medis dan tenaga lain yang bekerja dalam berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
c)      Untuk kepentingan manajemen pelayanan, rekam medis yang lengkap memuat segala aktivitas yang terjadi dalam manajemen pelayanan sehingga digunakan dalam menganalisis berbagai penyakit, menyusun pedoman praktik, serta untuk mengevaluasi mutu pelayanan yang diberikan.
d)      Untuk kepentingan menunjang pelayanan, rekam medis yang rinci akan mampu menjelaskan aktivitas yang berkaitan dengan penanganan sumber-sumber yang ada pada organisasi pelayanan di rumah sakit, menganalisis kecenderungan yang terjadi dan mengkomunikasikan informasi di antara klinik yang berbeda.
e) Untuk kepentingan pembiayaan, rekam medis yang akurat mencatat segala pemberian pelayanan kesehatan yang diterima pasien. Informasi ini menentukan besarnya pembayaran yang harus dibayar.
2. Tujuan Sekunder
Tujuan sekunder rekam medis ditujukan kepada hal yang berkaitan dengan lingkungan seputar pelayanan pasien namun tidak berhubungan langsung secara spesifik, yaitu untuk kepentingan edukasi, riset, peraturan dan pembuatan kebijakan.
Rekam medis aktif adalah berkas rekam medis yang tanggal pulang atau tanggal kunjungan terakhir masih dalam jangka waktu tiga sampai lima tahun dari tanggal sekarang (Skurka, 2003). Rekam medis inaktif adalah naskah/berkas yang telah disimpan minimal selama lima tahun di unit kerja rekam medis dihitung sejak tanggal terakhir pasien tersebut dilayani pada sarana pelayanan kesehatan atau lima tahun setelah meninggal dunia (Dirjen Pelayanan Medik 1995 No.HK.00.06.1.5.01160).
3.      Kegunaan Rekam Medis
Kegunaan rekam medis dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain, (Dirjen Yankes  2003: 10)
a. Aspek Administrasi   Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai administrasi, karena Isinya  menyangkut tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dan para medis dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan.
b. Aspek Medis  Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan atau perawatan yang harus diberikan kepada seorang pasien.
c. Aspek Hukum  Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai hukum, karena isinya menyangkut masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan, dalam rangka usaha untuk menegakkan hukum serta penyediaan bahan bukti untuk menegakkan keadilan.
d. Aspek Keuangan Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai uang, karena isinya mengandung data / informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek keuangan.
 e. Aspek Penelitian Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai penelitian, karena isinya menyangkut data / informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan.
f. Aspek Pendidikan Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai pendidikan, karena isinya menyangkut data / informasi tentang perkembangan kronologis dan kegiatan pelayanan medik yang diberikan kepada pasien. Informasi tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan atau referensi pengajaran dibidang profesi si pemakai.
g. Aspek Dokumentasi Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai dokumentasi, karena isinya menyangkut sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai sebagai bahan pertanggung jawaban dan laporan rumah sakit. 
Dengan melihat beberapa aspek tersebut diatas, rekam medis mempunyai kegunaan yang sangat luas, karena tidak hanya menyangkut antara pasien dengan (Dirjen Yankes, 2003: 12) :
1) Sebagai alat komunikasi antara dokter dengan tenaga ahli lainnya yang ikut ambil bagian didalam memberikan pelayanan, pengobatan, perawatan kepada pasien.
2) Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan / perawatan yang harus diberikan kepada seorang pasien.
3) Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan, perkembangan penyakit dan pengobatan selama pasien berkunjung / dirawat di rumah sakit.
4) Sebagai bahan yang berguna untuk analisa, penelitian dan evaluasi terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien.
5) Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun dokter dan tenaga kesehatan dan lainnya.
 6) Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk keperluan penelitian dan pendidikan.
7) Sebagai dasar ingatan penghitungan biaya pembayaran pelayanan medik pasien.
8)  Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan 

E.     Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis.
Sebelum menentukan sistem yang akan dipakai perlu terlebih dahulu mengetahui bentuk pengurusan penyimpanan yang ada dalam pengolahan rekam medis.
1.      Ada dua cara pengurusan penyimpanan dalam penyelenggaraan rekam medis, yaitu :
a.       Sentralisasi
Sentralisasi ini diartikan penyimpanan  rekam medis seseorang pasien dalam kesatuan baik catatan-catatan kunjungan poliklinik maupun catatan-catatan selama seorang pasien dirawat. Sistem ini disamping banyak kelebihan dan kekurangannya.
Kelebihan adalah sebagai beriku :
1)      Mengurangi terjadinya duplikasi dalam pemeliharaan dan penyimpanan rekam medis
2)      Mengurangi jumlah biaya yang dipergunakan untuk peralatan dan ruangan
3)      Tatakerja dan peraturan mengenai kegiatan pencatatan medis mudah di standardisasikan.
4)      Memungkinkan peningkatan efisien kerja petugas penyimpanan.
5)      Mudah merapkan sistem unit record.

Kekurangannya adalah sebagai berikut :
1)      Petugas menjadi lebih sibuk, karena harus menangani unit rawat jalan dan unit rawat nginap.
2)      Tempat penerimaan pasien harus bertugas selama 4 jam.


b.      Desentralisasi
Dengan cara disentralisasi terjadi pemisahan antara rekam medis poliklinik dengan rekam medis penderita dirawat. Rekam medis poliklinik disimpan di satu tempat penyimpanan. Sedangkan rekam medis penderita dirawat disimpan dibagian pencatatan medis.
Kebaikannya adalah sebagai berukut:
1)      Efisiensi waktu, sehingga pasien mendapatkan pelayanan yang cepat.
2)      Beban kerja yang dilaksanakan petugas lebih ringan.

Kekurangannya adalah sebagai berikut :
1)      Terjadi duplikasi dalam pembuatan rekam medis
2)      Biaya yang diperlukan untuk peralatan dan ruangan lebih banyak.
Secara teori cara sentralisasi  lebih baik dari pada cara desentralisasi . tetapi pada pelaksanaannya sangat tergantung pada situasi dan kondisi masing-masing rumah sakit. Hal-hal yang mempengaruhi yang berkaitan dengan situasi dan kondisi tersebut antara lain:
1)      Karena terbatasnya tenaga yang trampil. Khususnya yang menangani pengelolaan rekam medis.
2)      Kemampuan dana rumah sakit terutama rumah sakit yang dikelola oleh Pemerintah Daerah.
Proses pelayanan yang diawali dengan indentifikasi pasien baik jati diri, maupun pelayanan penyakit, pemeriksaan, pengobatan dan tindakan medis lainnya yang merupakan catatan mengenai apa, kapan, dimana, siapa, kenapa dan bagaimana suatu pasien mendapatkan perawatan di suatu tempat instalasi mulai dari masuk sampai keluar. Setelah kegiatan pencatatan data medis pasien itu mendapatkan pelayanan medis di rumah sakit.

F.     Pengertian Rumah Sakit
Rumah sakit adalah Bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan. DepartemenKesehatan RI telah menggariskan bahwa rumah sakit mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan (Aditama Tjandra Yoga, 2003:8).
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 983/Menkes/SK/XI/1992, menyebutkan bahwa, rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik dan sub spesialistik. Rumah sakit mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu yang terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Milton Roemer dan Friedman dalam buku “Docters In Hospital” (1971) menyatakan bahwa rumah sakit mempunyai lima fungsi :
a.       Harus ada pelayanan rawat inap dengan fasilitas diagnostik dan terpeutiknya. Berbagai jenis spesialisasi baik bedah maupun non bedah harus tersedia
b.      Rumah sakit harus memiliki pelayanan rawat jalan .
c.       Rumah sakit juga punya tugas untuk melakukan pendidikan dan latihan.
d.      Rumah sakit perlu melakukan penelitian di bidang kedokteran dan kesehatan, karena keberadaan pasien di rumah sakit merupakan modal dasar untuk penelitian.
e.       Rumah sakit juga punya tanggung jawab untuk program pencegahan penyakit dan penyembuhan kesehatan bagi populasi disekitarnya (Aditama Tjandra Yoga, 2003:6).
Ditinjau dari kemampuan yang dimiliki rumah sakit, di Indonesia dibedakan atas lima macam. Adapun kelima macam tipe rumah sakit tersebut adalah sebagai berikut (Alamsyah Dedi, 2011:104):
a.       Rumah sakit kelas A
Rumah sakit kelas A adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis luas. Yang dimaksud rumah sakit kelas A adalah rumah sakit sebagai tempat rujukan tertinggi.
b.      Rumah sakit kelas B
Rumah sakit kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis teratas.Contoh rumah sakit kelas B adalah rumah sakit di Ibukota Provinsi yang menampung rujukan dari tingkat Kabupaten.
c.       Rumah sakit kelas C
Rumah sakit kelas C adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis terbatas.Dalam hal ini ada empat macam spesialis yang disediakan, yaitu spesialis penyakit bedah, spesialis penyakit dalam, spesialis penyakit anak serta spesialis penyakit kandungan dan kebidanan.Rumah sakit kelas C ini adalah menampung rujukan dari puskesmas.
d.      Rumah sakit kelas D
Rumah sakit kelas D adalah rumah sakit yang memiliki sifat transisi dikarenakan pada suatu saat akan menjadi rumah sakit kelas C. Rumah sakit kelas D disini dimaksudkan adalah rumah sakit yang memiliki hanya dua bidang kedokteran yaitu kedokteran umum dan kedokteran gigi.
e.       Rumah sakit kelas E
Rumah sakit kelas E adalah rumah sakit yang memiliki hanya satu pelayanan saja, yaitu pelayanan kedokteran. Contohnya rumah sakit jiwa, rumah sakit ibu dan anak.


G.    Jenis Kepemilikan Rumah Sakit
1.      Jenis Rumah Sakit
Sesuai dengan perkembangan yang dialami, pada saat ini rumah sakit dapat dibedakan menjadi atas beberapa jenis, yaitu :
a.       Menurut pemilik
Ditinjau dari pemiliknya, rumah sakit dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu rumah sakit milik pemerintah dan rumah sakit milik swasta.
b.      Menurut filosofi yang dianut
Jika ditinjau dari filosofi yang dianut, rumah sakit dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu rumah sakit yang mencari keuntungan atau profit dan rumah sakit yang tidak mencari keuntungan atau non profit.
c.       Menurut jenis pelayanan yang diselenggarakan
Jika ditinjau dari jenis pelayanan yang diselenggarakan, rumah sakit dapat dibedakan atas dua macam, yaitu rumah sakit umum jika semua jenis pelayanan kesehatan diselenggarakan dan rumah sakit khusus jika hanya satu jenis pelayanan kesehatan diselenggarakan.
d.      Menurut lokasi rumah sakit
Jika ditinjau dari lokasinya, rumah sakit dapat dibedakan atas beberapa macam yang kesemuanya tergantung dari pembagian system pemerintah yang dianut. Misalnya, rumah sakit pusat apabila letaknya di ibu kota negara, rumah sakit provinsi jika letaknya di ibu kota provinsi dan rumah sakit umum kabupaten jika letaknya  di ibu kota kabupaten.























BAB III
GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT BETHESDA LEMPUYANGWANGI

A.    Sejarah Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi
Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi merupakan rumah sakit milik Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) sebagai konsep Healing Ministry. Pada tahun 1926, dimasa kepemimpinan dokter Ofringe selaku Pimpinan RS Petronella membuka klinik bersalin serta klinik anak di daerah bagian selatan Kota Yogyakarta yaitu daerah Lempuyangan. Klinik tersebut berperan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Pada awal mula berdirinya klinik ini dipimpin oleh Zuzter Enzerink selaku pimpinan harian, setelah itu kemudian digantikan oleh Zuzter Prins. Sejak saat itu klinik tersebut dikenal sebagai Klinik Zuzter Prins.      
Pada tanggal 12 September 1998 telah diputuskan oleh Yayasan (Dewan Pengurus YAKKUM) bahwa Pelayanan Kesehatan Lempuyangwangi dimandirikan menjadi RSKIA Bethesda Lempuyangwangi dengan diterbitkan SK pengangkatan Direktur. Ijin pendirian RSKIA Bethesda Lempuyangwangi telah dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DIY tanggal 6 Agustus 1999 melalui SK Nomor 503/1490/PK/VIII/99. Dan pada tanggal 29 Oktober 2001 telah diterbitkan  SK Pemberian Ijin Tetap dari Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DIY dengan Surat Keputusan No. 2957.
RSKIA Bethesda Lempuyangwangi berubah status menjadi RSU Bethesda Lempuyangwangi pada tanggal 15 Maret 2003 melalui SK Pemberian Ijin Konversi menjadi RSU Bethesda Lempuyangwangi  dari Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DIY No. 503/ 599. Pada tanggal 19 Januari 2012 diterbitkan Surat Ijin Menyelenggarakan RSU Bethesda Lempuyangwangi dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dengan SK No. 503/ 1022. RSU Bethesda Lempuyangwangi beroperasional sesuai dengan Visi dan Misi yang telah ditetapkan.
RSU Bethesda Lempuyangwangi pada tahun 1926 dipimpin oleh Zuzter Prins sampai tahun 1942. Kemudian secara bergantian oleh Zuzter Sukismiati (1943 – 1950), Zuzter Supadmi (1950 – 1956), Zuzter Katinah (1956 – 1960), Zuzter Supiswati (1960 – 1971). Mulai tahun 1968 rumah sakit ini memiliki kepala unit yang dipercayakan kepada dr. Lucas Budi Gunawan, Sp. OG sampai 1981. Dr. Noegroho Hadi Poerwowidagdo, Sp. OG memimpin setelah dr. Lucas Budi Gunawan, Sp. OG kemudian dilanjut Dr. Marwoto, Sp. A ditunjuk menjadi kepala unit berikutnya pada tahun 1981 – 1992. Kemudian dari tahun 1993 – 2012 secara bergantian dipimpin oleh dr. Bambang Hadi Baroto, Sp. A, dr. Wisnu Setyabudi, dr. Theresia Indrayanti dan dr. Sugianto, M.Kes. Sp.S, Ph.D. Saat ini RSU Bethesda Lempuyangwangi dipimpin oleh dr. Adelyna Meliala, Sp. S dengan SK Pengurus YAKKUM No. 1941-Ps/PUK. RSBL/I/2013 tentang Pengangkatan Direktur RSU Bethesda Lempuyangwangi.
Nama Rumah Sakit adalah Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yakkum Yogyakarta yang dapat disingkat dengan RSU Bethesda Lempuyangwangi, milik Badan Hukum Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (Yakkum), yang didirikan berdasarkan Akta pendirian yayasan no 6, oleh notaris Tan A Sioe, Sarjana Hukum, Notaris di Semarang pada tanggal 1 Februari tahun 1950. 
Surat Ijin Penyelenggaraan Rumah Sakit dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta No : 503/ 1022, berlaku dari 19 Januari 2012 sampai dengan 16 Januari 2017.
Jenis dan Kelas Rumah Sakit adalah Rumah Sakit Umum Kelas D sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.03./ I/ 1999/ 2014 tanggal 12 Agustus 2014 tentang Penetapan Kelas Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yakkum Yogyakarta.Alamat rumah sakit adalah di Jalan Hayam Wuruk No. 6 RT 43 RW 11 Kelurahan Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.Luas area rumah sakit lebih kurang 4.167 m2 dan luas bangunan rumah sakit lebih kurang 3.758 m2. Dan dengan jenis pelayanan Rawat Jalan meliputi Klinik Umum, Klinik Gigi dan Mulut, serta Klinik Spesialis, Pelayanan Gawat Darurat dan Ambulance, Pelayanan Rekam Medis, Pelayanan Kamar Bedah & VK, Pelayanan Penunjang: Farmasi, Radiologi, Laboratorium, Rehabilitasi Medik, dan Gizi, Pelayanan Rawat Inap: memiliki 43 TT, yang terdiri dari: Klas VIP, Klas I, Klas II, Klas III, Ruang HCU dan Ruang Bayi.
RSU Bethesda Lempuyangwangi telah lulus Akreditasi 5 Standar Pelayanan pada 12 Oktober 2011, dengan sertifkat kelulusan dari KARS No. KARS-SERT/ 87/ X/ 2011, dengan status Akreditasi Lulus Tingkat Dasar, berlaku dari 12 Oktober 2011 sampai dengan 12 Oktober 2014.

B. Visi, Misi, Falsafah, Tujuan, Motto, Dan Semboyan Kerja
1.      Visi
“Menjadi Rumah Sakit terpercaya, profesional, beralaskan kasih dan menjadi pilihan masyarakat”.
2.      Misi
a.       Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang holistik, bermutu, terjangkau dan berwawasan lingkungan.
b.      Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang fokus pada kepuasan pelanggan.
c.       Membangun SDM yang kompeten, berkomitmen, dan berkarakter sesuai budaya kerja YAKKUM.
d.      Mengelola penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara efektif dan efisien.
3.      Falsafah
“Manusia sebagai citra Allah dari saat pembuahan, lahir, sampai kematian berhak dan wajib memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya secara terpadu dan berkesinambungan”.
4.      TUJUAN
1.      Terselenggaranya pelayanan rumah sakit secara cepat, tepat, profesional, aman dan nyaman.
2.      Terciptanya suasana kerja yang harmonis, komunikatif dan ramah.
5.      Motto
“Melayani Dengan Kasih Menuju Sehat”
Melayani dengan kasih menuju sehat memiliki pengertian bahwa didalam memberikan pelayanan yang terbaik tersebut merujuk kepada Kolose 3:23, yaitu melakukan setiap pelayanan dengan segenap hati seperti untuk TUHAN dan bukan untuk manusia, sehingga setiap petugas RSU Bethesda Lempuyangwangi tidak membedakan manusia berdasarkan : status sosial ekonomi, latar belakang pendidikan, umur, jenis kelamin, kelompok/ golongan dalam memberikan pelayanan.
6.      Semboyan Kerja
“4S” (Senyum, Sapa, Sopan, dan Semangat)
Budaya Kerja RSU Bethesda Lempuyangwangi adalah 4 S yaitu Senyum, Sapa, Sopan dan Semangat. 4S ini diartikan sebagai pelayanan prima dalam menangani pasien yang dirawat di RSU Bethesda Lempuyangwangi. Seluruh petugas yang berada di RSU Bethesda Lempuyangwangi menjalankan pelayanan kepada pasien wajib 4S ini.

C.    Struktur Organisasi Rumah Sakit UmumBethesda Lempuyangwangi Yakkum Yogyakarta
Struktur Organisasi RSU Bethesda Lempuyangwangi, sesuai SK Direktur No. 0923/ RSBL/ OP.010/ 2014 tentang Penetapan Struktur Organisasi Yakkum Unit Kerja RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta Tahun 2014 adalah sebagai berikut.



KETUA SPI


PANITIA
KABID
PELAYANAN MEDIK
KABID
PENUNJANG MEDIK
KABAG
KEUANGAN
KABAG
SDM & UMUM
KETUA
KOMITE MEDIK
KETUA SOSIO PASTORAL & SPIRITUAL
KEPALA INSTALASI
IGD, KB & VK
KEPALA SEKSI KEPERAWATAN
KEPALA SEKSI
REKAM MEDIK
KEPALA INSTALASI
RANAP & RAJAL
KOORD. RUANG IGD, KB & VK
PJ. KAMAR BEDAH
PJ. KAMAR BEDAH
KOORD. RUANG RANAP
KOORD. RUANG RAJAL
KEPALA SUB SEKSI
ASUHAN KEPERAWATAN
KEPALA SUB SEKSI
ETIKA & MUTU KEPERAWATAN
KA. INST. FARMASI
KA. INSTALASI GIZI
KA. INST. RADIOLOGI
KALAKHAR RADIOLOGI
KA. INST. LABORATORIUM
KALAKHAR LABORATORIUM
KA. INST. REHAB MEDIK
KASUBBAG
SDM & DIKLAT
KASUBBAG
UMUM & TATA USAHA
KASUBBAG
KEUANGAN
KASUBBAG
AKUNTANSI
EDP
PENGURUS YAKKUM
DIREKTUR
KA. UR
TATA USAHA
KA. UR
HUMAS & MARKETING
KSP KOMINFO
KA. UR
PSP & SANITASI
KSP LOGISTIK
KSP KEAMANAN
KSP LAUNDRY
 













A.    Unit Struktural
1.      Direktur
Direktur Adalah pimpinan atau pejabat tertinggi di RSU Bethesda Lempuyangwangi.
2.      Kepala Bidang & Kepala Bagian
Kepala Bidang & Kepala Bagian adalah pejabat yang membantu Direktur dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sesuai bidang dan bagian masing-masing, yaitu:
a.       Kepala Bidang Pelayanan Medik : membantu Direktur dalam bidang Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Rekam Medik.
b.      Kepala Bidang Penunjang Medik : membantu Direktur dalam bidang Penunjang Medik.
c.       Kepala Bagian SDM & Umum : membantu Direktur dalam bagian SDM & Umum.
d.      Kepala Bagian Keuangan : membantu Direktur dalam bagian Keuangan.
3.      Kepala Instalasi
Kepala InstalasiAdalah pejabat yang membantu Kepala Bidang dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab sesuai bidang masing-masing. Kepala Instalasi yang berada dibawah koordinasi Bidang Pelayanan Medik antara lain:
a.       Kepala Instalasi IGD, Kamar Bedah & VK : membantu Kepala Bidang Pelayanan Medik dalam menjalankan pelayanan di IGD, Kamar Bedah & VK.
b.      Kepala Instalasi Rawat Inap & Rawat Jalan : membantu Kepala Bidang Pelayanan Medik dalam menjalankan pelayanan di Rawat Inap & Rawat Jalan.
Kepala Instalasi yang berada dibawah koordinasi Bidang Penunjang Medik antara lain:
a.       Kepala Instalasi Farmasi : membantu Kepala Bidang Penunjang Medik dalam menjalankan pelayanan Farmasi.
b.      Kepala Instalasi Gizi : membantu Kepala Bidang Penunjang Medik dalam menjalankan pelayanan Gizi.
c.       Kepala Instalasi Radiologi : membantu Kepala Bidang Penunjang Medik dalam menjalankan pelayanan Radiologi.
d.      Kepala Instalasi Laboratorium : membantu Kepala Bidang Penunjang Medik dalam menjalankan pelayanan Laboratorium.
e.       Kepala Instalasi Rehab Medik : membantu Kepala Bidang Penunjang Medik dalam menjalankan pelayanan Rehabilitasi Medik.
4.      Kepala Seksi Keperawatan
Kepala Seksi Keperawatan adalah pejabat yang membantu Kepala Bidang Pelayanan Medik dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di bidang pelayanan Keperawatan.
5.      Kepala Seksi Rekam Medik
Kepala Seksi Rekam Medik adalah pejabat yang membantu Kepala Bidang Pelayanan Medik dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di bidang pelayanan Rekam Medis.


6.      Kepala Sub Bagian
Kepala Sub Bagian adalah pejabat yang membantu Kepala Bagian dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab sesuai bagian masing-masing. Kepala Sub Bagian yang berada dibawah koordinasi Bagian SDM & Umum antara lain:
a.       Kepala Sub Bagian SDM & Diklat : membantu Kepala Bagian SDM & Umum dalam mengelola SDM dan Pendidikan Pelatihan SDM.
b.      Kepala Sub Bagian Umum & Tata Usaha : membantu Kepala Bagian SDM & Umum dalam mengelola Bagian Umum & Tata Usaha.
Kepala Sub Bagian yang berada dibawah koordinasi Bagian Keuangan antara lain:
a.       Kepala Sub Bagian Keuangan : membantu Kepala Bagian Keuangan dalam mengelola Keuangan.
b.      Kepala Sub Bagian Akuntansi : membantu Kepala Bagian Keuangan dalam mengelola Akuntansi.
7.      Kepala Sub Seksi
Kepala adalah pejabat yang membantu Kepala Seksi Keperawatan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di bidang pelayanan Keperawatan. Kepala Sub Seksi yang ada antara lain:
a.       Kepala Sub Seksi Asuhan Keperawatan
b.      Kepala Sub Seksi Etika & Mutu Keperawatan
8.      Koordinator Ruang
Koordinator Ruang adalah pejabat yang membantu Kepala Keperawatan dan Kepala Instalasi di bidang Pelayanan Medik dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di bidang pelayanan medis masing-masing. Koordinator Ruang yang ada antara lain:
a.       Koordinator Ruang IGD, Kamar Bedah & VK
b.      Koordinator Ruang Rawat Inap
c.       Koordinator Ruang Rawat Jalan
9.      Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar)
Kepala Pelaksana Harian adalah pejabat yang membantu Kepala Instalasi di bidang Penunjang Medik dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di bidang penunjang medik masing-masing. Kepala Pelaksana Harian yang ada antara lain:
a.       Kalakhar Radiologi
b.      Kalakhar Laboratorium
10.  Kepala Urusan (Ka. Ur.)
Kepala Urusan adalah pejabat yang membantu Kepala Sub Bagian Umum & Tata Usaha dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di bagian Umum & Tata Usaha. Kepala Urusan yang ada antara lain:
a.       Ka. Ur. Tata Usaha
b.      Ka. Ur. Humas & Marketing
c.       Ka. Ur. PSP & Sanitasi
11.  EDP (Electronic Data Processing)
EDP (Electronic Data Processing) adalah bagian yang membantu Kepala Sub Bagian Keuangan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di bagian Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit.
12.  Penanggungjawab (Pj.)
Penanggungjawab (Pj) adalah pejabat yang membantu Koordinator Ruang IGD, Kamar Bedah & VK dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di pelayanan bidang Kamar Bedah & VK. Penanggungjawab yang ada antara lain:
a.       Pj. Kamar Bedah
b.      Pj. VK
13.  Kepala Satuan Pelaksana (KSP)
Kepala Satuan Pelaksana (KSP) adalah pejabat yang membantu Kepala Urusan di Bagian Umum dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di bagian masing-masing. KSP yang ada antara lain:
a.       KSP Kominfo
b.      KSP Logistik
c.       KSP Keamanan
d.      KSP Laundry



B.     Unit Non Struktural
1.      Ketua Komite Medik
Ketua Komite Medik adalah pejabat non struktural yang terdiri dari tenaga ahli dan profesi dibentuk untuk memberikan pertimbangan strategis kepada Direktur dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan rumah sakit.
2.      Ketua Sosio Pastoral dan Spiritual
Ketua Sosio Pastoral dan Spiritual adalah pejabat non sturktural yang terdiri dari tenaga ahli dan profesi dibentuk untuk memberikan pertimbangan strategis kepada Direktur dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan rumah sakit khususnya dibidang Sosio Pastoral dan Spiritual.
3.      Ketua Satuan Pengawas Internal
Ketua Satuan Pengawas Internal adalah pejabat non sturktural yang terdiri dari tenaga ahli dan profesi dibentuk untuk memberikan pertimbangan strategis kepada Direktur dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan rumah sakit.
4.      Panitia/ Tim/ Komite
Panitia/ Tim/ Komite adalah wadah non struktural yang terdiri dari tenaga ahli dan profesi dibentuk untuk bertanggungjawab terhadap bidang tertentu dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan rumah sakit. Panitia/ Tim/ Komite yang ada di RSU Bethesda Lempuyangwangi :
a.       Komite Farmasi & Terapi
b.      Komite & Tim PPIRS (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit)
c.       Komite K3 & Penanggulangan Bencana
d.      Tim Mutu & Keselamatan Pasien Rumah Sakit
e.       Tim TB-DOTS
f.       Tim HIV
g.      Tim PONEK, EMAS & MOW
h.      Tim PKPR & Kekerasan Gender
i.        Tim PKRS
j.        Tim Yes 118
k.      Tim Pamulasaraan Jenasah
l.        Tim Urusan JKN dan Jaminan Kesehatan Lain
m.  Panitia Akreditasi

D.    Sarana dan Prasarana Pendukung Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.
1.   Pelayanan kesehatan 
Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta melayani pasien dengan jalur pelayanan antara lain :
a.       Jamkesda Kota Yogyakarta
b.      Jamkesos
c.       Asuransi
d.      BPJS
2.      Fasilitas  rawat jalan
Pelayanan rawat jalan ditunjang oleh dokter spesialis ( konsultan ) yang meliputi :
a.       Instalasi Gawat Darurat ( IGD ) buka 24 jam.
b.     Klinik umum
c.       Klinik gigi
d.      Klinik penyakit dalam
e.       Klinik kebidanan dan kandungan
f.       Klinik anak
g.      Klinik bedah anak
h.      Klinik bedah umum
i.        Klinik saraf
j.        Klinik THT – alergi
k.      Klinik jantung
l.        Klinik kulit dan kelamin
3.      Fasilitas rawat inap
a.       VIP
Fasilitas VIP diantaranya adalah :
1)      Satu kamar untuk satu pasien
2)      Satu bed penunggu
3)      Kamar mandi dalam
4)      Air panas, meja, kursi, ac, tv, kulkas/non kulkas, almari, teras.
b.      Kelas 1
Fasilitas kelas 1 diantaranya adalah :
1)      Satu kamar untuk satu pasien
2)      Satu bed penunggu
3)      Kamar mandi dalam
4)      Meja, kursi, kipas angin/ac dan almari.
c.       Kelas II
Fasilitas kelas II diantaranya adalah :
1)      Satu kamar untuk dua pasien ( khusus isolasi satu pasien )
2)      Kamar mandi dalam
3)      Meja, laci pasien, kursi, kipas anggin/ac, tv.
d.      Kelas III
Fasilitas kelas III diantaranya adalah :
1)      Satu kamar untuk tiga pasien
2)      Kamar mandi di luar
3)      Meja, laci pasien, kursi dan kipas anggin.
e.       Kelas III ( IBU )
Fasilitas kelas III ibu diantaranya adalah :
1)      Satu kamar untu dua pasien
2)      Kamar mandi dalam
3)      Kipas anggin, meja, laci pasien, kursi penunggu.
f.       Fasilitas pelayanan penunjang medik
a.       Konsultasi gizi
b.      Rehab medik :
1)      Fisioterapi
2)      Senam hami
3)      Pijat bayi
c.       Radiologi
d.      Laboratorium
e.       Farmasi
f.       Rekam medik
g.      Pelayanan medis spesialis, terdiri dari :
a.       Perawatan gigi
b.      Penyakit dalam
c.       Kebidanan dan kandungan
d.      Bedah umum
e.       Anak
f.       Saraf
g.      THT dan alergi
h.      Kulit dan kelamin
i.        Konsultasi psikologi
j.        Pantologi anatomi
k.      Jantung
l.        Konsultasi kesehatan jiwa.


E.     Aspek Manajemen RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta
Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta juga memiliki beberapa aspek manajemen sama seperti rumah sakit lain pada umumnya guna mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dan dukungan bagi pasien atau masyarakat Yogyakarta khususnya. Aspek-aspek tersebut antara lain adalah :
1.   Aspek manajemen sumber daya manusia
h.      Jumlah karyawan Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi
Jumlah tenaga kesehatan berdasarkan keahliannya di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta diantaranya :
a.       Daftar dokter berdasarkan keahliannya

Table 3.1
No
Jenis keahlian
Jumlah
1
Dokter umum
11
2
Gigi
3
3
Penyakit dalam
2
4
Kandungan dan kebidanan
3
5
Bedah umum
2
6
Anak
3
7
Saraf
3
8
THT dan alergi
2
9
Kulit dan kelamin
1
10
Konsultasi psikologi
1
11
Pantologi anatomi
1
12
Jantung
1
13
Konsultasi kesehatan jiwa
1
Jumlah
34
Sumber : Daftar nama karywan ( per 9 maret 2015 )
b.      Daftar nama karyawan tenaga medis dan non medis berdasarkan bagian atau gugus tugasnya.

TABLE 3.2
No.
Bagian
Jumlah
1
SDM & Umum
9
2
Keuangan & akuntansi
13
3
Rekam medis
11
4
Instalasi farmasi
12
5
Instalasi laboratorium
6
6
Instalasi radiologi
3
7
Instalasi gizi
8
8
Instalasi rehab medic
3
9
PSP & sanitasi
1
10
KSP logistic
1
11
KSP keamanan
8
12
Driver
2
13
KSP laundry
7
14
KSP operator
4
15
Ruang rawat inap
25
16
Ruang IGD, KB & VK
20
17
Ruang rawat jalan 
15
18
SPI
1
19
Komite medic
1
20
Pastoral
1
Jumlah
151
Sumber : Daftar nama karywan ( per 9 maret 2015 )

  Manajemen sumber daya manusia yang pada Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta lebih dikenal dengan istilah para medis pada unit administrasi yang memiliki tugas antara lain :
1)         Melaksanakan perencanaan, penerimaan dan pembinaan karier bagi karyawan personil Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.
2)         Melakukan pencatatan dan pengarsiapan data-data personil Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.
3)         Melakukan pencacatan dan pelaporan semua data medik.
4)         Melaksanakan korespondensi, kearsipan, pedokumentasi, dan perpustakaan Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.

2.      Aspek Manajemen Operasional
Manajemen operasional di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta lebih dikenal sebagai para medis unit material dan alat kesehatan yang memiliki tugas antara lain :
a.       Melaksanakan kegiatan operasional kesehatan masyarakat umum.
1)      Jasa tenaga medis atau non medis.
2)      Formulir
3)      Bekal kesehatan
4)      Evaluasi
b.      Peningkatan pelayanan kesehatan pasien
1)      Tambah bekal kesehatan
2)      Alat kesehatan
3)      Dukungan keuangan restitusi
4)      Meningkatkan kemampuan operasional Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta.
3.   Aspek Manajemen Keuangan
  Pendapatan Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta didapat dari beberapa komponen diantaranya adalah :
a)      Pasien rawat jalan
b)      Pasien rawat inap
c)      Laboratorium
d)     Fisioteterapi
e)      Pelayanan gizi dan konsultasi gizi
f)       Obat
g)      Kenderaan ambulance
h)      Tinadakan yang diberikan meliputi jasa medis dan keperawatan.
4.   Aspek Pemasaran
            Strategi pemasaran di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta yang lebih dikenal dengan unit humas dan marketing. Adapun jenis saluran distribusi yang ditawarkan oleh pihak Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta antara lain :
a.       Jenis barang yang dipasarkan atau ditawarkan dirumah sakit berbentuk pelayanan kesehatan seperti :
1)      Pelayanan rawat jalan
2)      Pelayanan rawat inap
3)      Pelayanan rawat darurat
4)      Pelayanan penunjang medik
5)      Pelayanan fisioterapi
6)      Pelayanan konsultasi kesehatan
7)      Pelayanan kebidanan ( pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan KB/KIA, tindakan persalinan )
8)      Pemeriksaan kesehatan dan
9)      Pelayanan lainnya.

b.      Promosi
Promosi di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta bersifat promosi sosial tidak lepas dari etika pemasaran yang berlaku di instansi rumah sakit pada umumnya. Promosi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta tidak lepas dari pengawasan satuan pengawas internal ( SPI ). Adapun bentuk-bentuk promosi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta misalnya, pendekatan langsung dengan pasien, periklanan melalui brosur dan media masa dalam bentuk website.


BAB IV
                                                    HASIL ANALISA DAN PEBAHASAN

A.    HASIL ANALISA
Hasil Analisa yang didapat penulis saat melalukan magang di RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta adalah sebagai berikut:
1.    Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis
Dalam proses penyimpanan berkas rekam medis dibuat suatu system yang dipergunakan untuk membuat kemudahan penyimpanan dan kemudahan penemuan berkas rekam medis yang sudah tersimpan secara cepat bilamana berkas tersebut sewaktu-waktu diperlukan. Untuk menjaga keamanan dan kerahasiaan berkas rekam medis,  ada dua asas penyimpanan berkas rekam medis yang digunakan adalah:
a.         Asas Sentralisasi
Seluruh informasi tentang seorang pasien disimpan di satu berkas dengan satu nama, baik itu berkas rekam medis rawat inap atau berkas rekam medis rawat jalan. Tujuan utamanya adalah bahwa unit rekam medis memelihara rekam medis pasien secara berkesinambungan dan tetap tersedia saat diperlukan. Adapun kelebihan dan kelemahan dalam penggunaan asas sentralisasi.


Kelebihan asas sentralisasi adalah sebagai berikut:
1)      Semua informasi tentang pasien tersimpan didalam satu berkas
2)      Mengurangi dukplikasi rekam medis
3)      Mengurangi jumlah biaya untuk peralatan dan ruangan
4)      Meningkatkan efisiensi kerja petugas penyimpanan
5)      Mudah menerapkan system penomoran unit
Kelemahan asas sentralisasi adalah sebagai berikut:
1)      Petugas menjadi lebih sibuk karena harus menangani unit rawat jalan dan unit rawat inap
2)      Tempat penerimaan pasien harus bekerja sama 24 jam
System penyimpanan berkas rekam medis  biasanya menggunakan data lengkap dan berkas yang simpan, baik baik berupa huruf maupun angka yang disusun menurut urutan tertentu. Pada rumah sakit umum Bethesda Lempunyangwangi lebih dominan menggunakan system desentralisasi yaitu pengelolaan dan penyimpanan berkas rekam medis  pasien rawat inap dan pasien rawat jalan disimpan secara terpisah.
b.      Asas Desentralisasi
Berkas rekam medis pasien rawat jalan dan berkas rekam medis pasien rawat inap disimpan secara terpisah. Maksudnya bahwa selama berkas rekam medis masih aktif dipergunakan, maka berkas rekam medis tersebut dikelola dan disimpan pada unit rekam medis. Adapun kelebihan dan kelemahan dalam penggunaan asas desentralisasi.
            Kelebihan asas desentralisasi adalah sebagai berikut:
1)      Beban kerja petugas menjadi ringan
2)      Pengawasan terhadap rekam medis lebih mudah karena lingkungan lebih sempit
3)      Efisiensi waktu yaitu pasien cepat terlayani
 Kelemahan asas desentralisasi adalah sebagai berikut:
6)      Duplikasi pembuatan berkas rekas medis tentang informasi riwayat penyakit pasien terpisah
7)      Membutuhkan biaya tinggi dalam pengadaan rekam medis dan alat bangunan
8)      Bentuk atau isi berkas rekam medis berbeda
9)      Menghambat pelayanan bila rekam medis dibutuhkan klinik lain
Penyimpanan berkas rekam medis pasien rawat inap pada rumah sakit umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta adalah sebagai berikut:
a.       Berkas rekam medis inaktif dipisahkan dari penyimpanan induk ke tempat penyimpanan yang tidak aktif.
b.      Tempat penyimpanan berkas rekam medis rawat inap di bagian sub rekam medis rawat  inap.
c.       Penyimpanan berkas rekam medis dengan menggunakan angka akhir ( terminal digit ). Contohnya: 15-55-53 akhiran 2 digit 53 menunjukkan lokasi berkas, angka 55 menunjukkan nama susunan rak penyimpanan pada lokasi berkas, digit pertama menunjukkan urutan catatan medic pada susunan rak.
Penyimpanan berkas rekam medis pasien rawat jalan pada rumah sakit umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta adalah sebagai berikut:
a.       Setelah selesai dikerjakan oleh petugas, koding rekam medis dicek terlebih dahulu selanjutnya disusun berdasarkan nomor urut.
b.      Kemudian berkas rekam medis dipisahkan antara berkas rekam medis aktif dan inaktif.
c.       Berkas rekam medis rawat jalan akan di kembalikan ke sub bagian rekam medis urusan rawat jalan sebelum berakhir jam kerja, sedangkan berkas rekam dari instalasi gawat darurat dikirim keesokan hari dan akan di gabungkan kemudian diberi map.
d.      Dilakukan pengecekan sesuai dengan ekspedisi pengiriman dari polik klinik atau instalasi rawat darurat dan ruang rawat inap selanjutnya diserahkan kepada petugas koding.
e.       Pasien yang membutuhkan rawat inap, berkas rekam medis rawat jalan dikirim oleh petugas rawat inap ke petugas penerimaan berkas rekam medis dalam waktu dan hari kerja.
Adapun tujuan penyimpanan berkas rekam medis pada rumah sakit umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta adalah:
a.       Menyediakan rekam medis secara utuh atau lengkap apabila sewaktu-waktu diperlukan
b.      Menghindari pemborosan waktu dan tenaga dalam penemuan kembali berkas rekam medis
c.       Memanfaatkan tempat dan sarana penyimpanan
d.      Mengamankan dan melindungi rekam medis dari bahaya kerusakkan
e.       Menjaga informasi ( kerahasiaan ) yang mendukung di dalamnya

            Langkah yang dilakukan oleh rumah sakit umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta adalah:
1.      Petugas penyimpanan dan pelaporan rekam medis ( reporting )
a.       Petugas menuju rak penyimpanan dan pelaporan dengan nomor awal 53 sebagai nomor primer.
b.      Petugas memperhatikan nomor 55 sebagai nomor sekunder kemudian petugas mencari urutan ke 55 pada rak nomor 55.
c.       Petugas memperhatikan nomor 19 sebagai nomor tersier.
d.      Petugas menuju ke nomor 19 dimana berkas rekam medis tersebut disimpan.


2.      Petugas TPPRJ dan TPPRI
Petugas dari TPPRJ dan TPPRI yang memerlukan berkas rekam medis pasien. Setelah petugas penyimpanan dan pelaporan mendapat berkas rekam medis yang diperlukan langsung diserahkan kepada petugas dari TPPRJ dan TPPRI. Berkas rekam medis tersebut kemudian diserahkan kepada pasien
Adapun kelebihan dan kelemahan dari penyimpanan berkas rekam medis dengan system terminal digit di rumah sakit umum Bethesda Lempuyangwangi Yogayakarta, antara lain:
1.      Kelebihan system terminal digit sebagai berikut:
a.       Pertambahan rekam medis ke 100 tempat kelompok angka akhir dalam rak penyimpanan.
b.      Jumlah pertambahan berkas rekam medis  terkontrol, memudahkan perencanaan alat atau rak
c.       Pekerjaan penyimpanan maupun pengambilan dapat dibagi secara merata.
d.      Miffille ( salah simpan ) dapat dicegah karena petugas hanya memperhatikan dua angka akhir saja menuju lokasi kelompok angka akhir.
2.      Kelemahan system terminal digit sebagai berikut:
a.       Diperlukan waktu untuk melatih petugas mengenai system penyimpanan berkas rekam medis dengan system terminal digit.

B.       PEMBAHASAN
Tabel 3.3 :
Perbandingan Teori dan Praktek

No
Teori
Praktek
1.

Penyimpanan Berkas Rekam Medis

a.        Sentralisasi
1)      Seluruh informasi tentang seseorang pasien disimpan disatu berkas dengan satu nama.

b.        Desentralisasi
1)      Berkas rekam medis pasien rawat jalan dan rekam medis rawat inap disimpan secara terpisah

Penyimpanan Berkas Rekam Medis

a.   Sentralisasi
1)   Penyatuhan seluruh berkas rekam medis disatu berkas dengan satu nama

b.  desentralisasi
1)      Memisahkan rekam medis rawat jalan dan rawat inap

Penyimpanan Berkas Rekam Medis Pasien Rawat Inap

a.Berkas rekam medis inaktif dipisahkan dari penyimpanan induk ke tempat penyimpanan yang tidak aktif
Penyimpanan Berkas Rekam Medis Pasien Rawat Inap

a.        rekam medis inaktif dipisahkan dari penyimpanan induk ke tempat penyimpanan yang tidak aktif

b.    penyimpanan berkas rekam medis menggunakan angka akhir (terminal digit). 15-55-53 akhiran 2 digit 53 menunjukan lokasi berkas, 55 menunjukan nama susunan rak penyimpanan, 15 menunjukan urutan catatan medic pada susunan rak
b. 15-55-53 akhiran 2 digit 53 menunjukan lokasi berkas, 55 menunjukan nama susunan rak penyimpanan, 15 menunjukan urutan catatan medic pada susunan rak.






Penyimpanan Berkas Rekam Medis Rawat Jalan

a.       Selesai dikerjakan oleh petugas, koding rekam medis dicek terlebih dahuluh selanjutnya disusun berdasarkan nomor urut.
b.      Kemudian berkas rekam medis dipisahkan antara berkas rekam medis aktif dan inaktif
c.       Berkas rekam medis rawat jalan akan dikembalikan ke sub bagian rekam medis urusan rawat jalan sebelum berakhir jam kerja.
d.      Dilakukan pengecekan sesuai dengan ekspedisi pengiriman dari poliklinik atau instalasi rawat darurat dan ruang inap  selanjutnya diserahkan kepada petugas koding.

Penyimpanan Berkas Rekam Medis Rawat Jalan

a.       Selesai dikerjakan oleh petugas, koding rekam medis dicek terlebih dahuluh selanjutnya disusun berdasarkan nomor urut.
b.      Kemudian berkas rekam medis dipisahkan antara berkas rekam medis aktif dan inaktif
c.       Berkas rekam medis rawat jalan akan dikembalikan ke sub bagian rekam medis urusan rawat jalan sebelum berakhir jam kerja.
d.      Dilakukan pengecekan sesuai dengan ekspedisi pengiriman dari poliklinik atau instalasi rawat darurat dan ruang inap  selanjutnya diserahkan kepada petugas koding.








 Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis Menggunakan System Terminal Digit.
a.         penyimpanan berkas rekam medis menggunakan angka akhir (terminal digit). 15-55-53 akhiran 2 digit 53 menunjukan lokasi berkas, 55 menunjukan nama susunan rak penyimpanan, 15 menunjukan urutan catatan medic pada susunan rak

Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis Menggunakan Systen Terminal Digit.

a.       15-55-53 akhiran 2 digit 53 menunjukan lokasi berkas, 55 menunjukan nama susunan rak penyimpanan, 15 menunjukan urutan catatan medic pada susunan rak.

Dari tabel diatas maka adapun kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:
1.      Kelebihan
a.       Dalam  melakukan Penyimpanan Berkas Rekam Medis, di RSU Bethesda Lempuyangwangi telah mengikuti tahapan-tahapan sesuai dengan teori Penyimpanan Berkas Rekam Medis.
b.      Sistem Penyimpanan Yang Digunakan Oleh Rumah Sakit Bethesda Lempuyangwangi adalah System Terminal Digit atau System Penyimpanan Berkas Rekam Medis Menggunakan Angka Akhir.
c.       Meski dalam praktek tidak selengkap teori yang perna kita pelajari namum sesuai dengan apa yang penulis dapatkan pada saat magang adalah RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta mampu menjaga keamanan dan kerahasiaan berkas rekam medis di Rumah Sakit.
d.      Di RSU Bethesda Lempuyangwangi  telah melakukan penyimpanan sesuai dengan teori Rekam Medis.
2.      Kekurangan
a.       Belum adanya Standar Operasional Sistem (SOP).di RSU Bethesda Lempuyangwangi tentang Penyimpanan,pengambilan, dan Peminjaman Berkas Rekam Medis.
b.      Penyimpanan Berkas Rekam Medis yang dilakukan di RSU Bethesda Lempuyangwangi belum tertata  dengan baik.















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Berdasarkan dari bab-bab sebelumnya yang telah penulis susun dari hasil pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) maka penulis dapat membuat kesimpulan sebagai berikut.
1.      Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta
a.       Asas Sentralisasi
b.      Asas Desentralisasi
2.      Tujuan Penyimpanan Berkas Rekam Medis RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta
a.       Menyediakan rekam medis secara utuh atau lengkap apabila sewaktu-waktu diperlukan.
b.      Menghindari pemborosan waktu dan tenaga dalam penemuan kembali berkas rekam medis
c.       Memanfaatkan tempat dan sarana penyimpanan
d.      Mengamankan dan melindngi rekam medis dari bahaya kerusakan
e.       Menjaga informasi ( kerahasiaan ) yang mendukung di dalamnya.



B.     Saran
Adapun penulis dapat memberikan saran terhadap RSU Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta untuk perbaikan yang akan datang, yaitu:
1.      Penyimpanan dan pemeliharaan berkas rekam medis, masih perlu dievaluasi kembali secara berkesenambungan agar tetap tersedia saat berkas itu diperlukan.
2.      Dalam penyimpanan perlu memperhatikan tempat penyimpanan atau rak penyimpanan berkas rekam medis agar berkas rekam medis tersebut dapat diamankan dari bahaya-bahaya yang kita tidak inginkan .
3.      Pihak rumah sakit sebaiknya membuat brosur atau buku yang berisi tentang prosedur dan sistem penyimpanan yang efektif agar setiap mahasiswa PKL lebih memahami tentang sistem penyimpanan yang digunakan.
4.      Petugas di unit rekam medis diharapkan memperbaiki sistem pengarsipan BRM pasien, agar tidak terjadi lagi kekeliruan pada saat pencarian berkas rekam medis pasien.







Sumadi Suryabrata,
Metodologi Penelitian
, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2003)




Sugiyono, 2003.
Metode Penelitian Administrasi
. Bandung: Alfabeta IKAPI

3 komentar:

  1. maaf mau tanya untuk daftar pustaka nya mana ya?

    BalasHapus
  2. 1xbet korean domain koreanbet.com.kr - legalbet.co.kr
    1xbet korean domain 1xbet korean koreanbet.com.kr. kadangpintar Sportsbook. หาเงินออนไลน์ Betway Group Betway, Gauteng. 1xbet. Sportsbook, Betway, Gauteng.

    BalasHapus
  3. 888 agrees to $2.6bn deal for online sports betting giant in NJ
    888 Holdings Inc (NASDAQ: 888.HK) 나주 출장샵 has entered 청주 출장마사지 into a new agreement 당진 출장마사지 to acquire the online gambling 문경 출장안마 group 888 Holdings, 양산 출장샵

    BalasHapus